Harapan merupakan sayap kedua, setelah rasa takut atau takwa. Melalui kedua sayap ini, kita sebagai seorang hamba bisa terbang untuk berlaku taat dan beribadaah kepada Allah swt. Dan, tidak berputus asa merupakan sikap yang tinggi dalam menggapai cita-cita. Cita-cita yang menjulang tinggi harus kita gapai dengan sungguh, tidak berputus asa sama sekali. Sedangkan, harapan menjadi puncak bagi kita untuk taat dan takut kepada-Nya.

Jika kita berhadapan dengan amalan ibadah dan ketaatan kepada Allah swt, maka kita memerlukan rasa takut kepada Allah swt. Ini merupakan suatu hakikat bahwa dalam harapan terdapat sesuatu yang indah dan nikmat yang berbanding dengan rasa takut. Sebab, puncak harapan adalah kepercayaan sepenuhnya kepada Allah. Hakikatnya, barang siapa yang beribadah berdasarkan harapan kepada Allah, maka ia lebih mulia dan tinggi kedudukannya dibanding dengan orang yang beribadah karena rasa takut kepada azab dan pembalasan dari Allah semata.

Dalam Al-Qur’an Allah juga melarang kita (manusia) berputus asa dari rahmat-Nya. Allah berfirman :




“.. Janganlah berputus asa dari rahmat Allah karena hanya kaum kafir yang berputus asa dengan rahmat Allah.”(QS. Yusuf [12]:87)

Dari ayat diatas kita dapat belajar bahwa berputus asa atas rahmat Allah hanya dilakukan oleh orang-orang kafir. Karena mereka jelas tidak akan mendapatkan pertolongan nanti pada hari kiamat. Selain firman Allah diatas, Nabi Muhammad saw juga mengingatkan kita kaum muslimin agar menjauhi sikap putus asa tersebut, Rasullullah bersabda :

“… Sekiranya orang-orang kafir mengetahui setiap rahmat (kasih sayang) yang ada di sisi Allah, niscaya mereka tidak akan berputus asa untuk memperoleh surga, dan sekiranya orang-orang mukmin mengetahui setiap siksa yang ada pada sisi Allah, maka ia tidak akan merasa aman dari neraka” (HR. Bukhari, 5988)

Sesungguh ujian demi ujian dari Allah adalah cara Allah untuk melihat seberapa besar kemampuan diri kita dalam menyikapi dan melalui ujian dari-Nya. Apakah kita akan mudah menyerah dan berputus asa, atau malah menjadi semakin tawakkal memohon pada sang pemberi ujian.

 

Oleh: Chairunnisa Dhiee