Perang adalah gelanggang jihad. Sebuah medan pertempuran dimana kaum Muslimin menegakkan kalimat Allah dan Rasul-Nya serta mengobarkan panji Islam dalam satu barisan. Perang adalah wujud perjuangan dan pengorbanan umat Muslim untuk membela agama yang hak, menumpas kebatilan, dan menjunjung keadilan.

Kita meyakini bahwa ujian adalah wujud kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya. Pun saat berperang Allah memberikan ujian kepada para pasukan Islam. Mereka yang ada di sana ketika itu adalah orang-orang saleh, sehingga ketika ujian datang mereka tak segan untuk memanjatkan doa di tengah medan pertempuran.

Pada Perang Badar, umat Islam menghadapi kaum musyrik. Di sini Allah memberikan ujian berupa lawan yang lebih kuat, yaitu kurang lebih seribu pasukan, seratus tentara berkuda, dan kobaran semangat berperang. Sementara saat itu, pasukan Islam hanya berjumlah kurang lebih tiga ratus pasukan, dua tentara berkuda, dan berniat untuk menemui kafilah.




Pasukan Islam yang dituntut untuk tetap maju berperang, lalu memohon pertolongan kepada Allah. Mereka berdoa sambil mengangkat kedua tangan, “(Ingatlah ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS Al Anfal: 9)

Rasulullah Saw juga turut berdoa tanpa henti, “Ya Allah, tunaikanlah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, tunaikanlah janji-Mu kepadaku. Ya Allah, jika keteguhan umat Islam ini hancur, niscaya Engkau tidak lagi akan disembah di bumi ini.” (HR Muslim).

Beliau terus berdoa dengan menghadap kiblat sambil menengadahkan tangannya hingga sorbannya melorot dari kedua pundaknya. Kemudian Abu Bakar datang dan membenarkan letak sorban Rasulullah, lalu berkata, “Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonanmu pada Tuhan. Sesungguhnya Dia Pasti menunaikan janji-Nya kepadamu.”

Alquran menyebutkan bahwa pengikut Thalut yang sedikitsekitar tiga ratus lebih sedikitberhadapan dengan pasukan Jalut yang lebih besar dan kuat. Mereka berkata:

“Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” “Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan bertemu Allah,” yaitu orang-orang yang beriman, “Berkata, berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” Tatkala mereka tampak oleh Jalut dan tentaranya,” maksudnya berhadapan satu sama lain, “Mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa, Wahai Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” Begitulah mereka berdoa ketika sedang berada di jantung peperangan. Lantas, apa hasilnya? “Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya.” (Al Baqarah: 249-251)

Allah pun kemudian menurunkan malaikat di medan perang. “(Ingatlah) ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.” (Al Anfal: 12)

Pada perang lainnya, seperti Perang Khandaq dan Perang Hunain, Allah juga menurunkan malaikat-Nya. Allah Swt telah mengabulkan doa para orang saleh di medan perang. Hal ini memberikan makna bahwa Allah mengabulkan doa orang-orang yang tengah berjuang dan berkorban, sehingga agar doa kita diijabah maka kita harus dalam kondisi keduanya. Tidak serta merta berdiam diri dan tanpa melakukan upaya apapun. []

Wallahualam bishawab

(referensi: buku Kumpulan Ceramah Pilihan Syaikh Al Qaradhawi)