“Malu adalah bagian dari iman, sedangkan tempat iman adalah disurga. Perkataan kotor adalah bagian dari tabiat kasar, sedangkan tempat bagi tabiat kasar adalah di neraka.” (HR.Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Hakim)

Rasulullah saw adalah pribadi yang sangat pemalu, melebihi gadis yang dipingit. Hal ini jauh berbeda dari kondisi yang kini marak terjadi, khususnya pada pergaulan wanita sekarang. Seperti yang kita lihat misalnya saja saat kita menonton televisi, begitu banyak iklan-iklan yang menggoda.

Wanita begitu mudahnya mengumbar aurat mereka sambil tersenyum dan bangga dengan kemolekan tubuhnya. Di jalan-jalan, mal, bahkan perkantoran, kita mudah menemukan aurat terbuka. Padahal, wanita adalah sosok yang diciptakan dengan perangai lembut. Seharusnya wanita memiliki rasa malu yang lebih tinggi daripada laki-laki.




Kata Rasulullah saw, malu adalah bagian dari iman. Menipisnya rasa malu berarti menipisnya iman yang ada di dalam hati. Jika seseorang kehilangan rasa malu untuk berbuat dosa, perbuatan yang tak terpuji pun dianggap hal biasa.

Rasulullah saw pun telah mengingatkan kita, “ Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekendakmu.” (HR.Bukhari)

Jika rasa malu berbuat dosa telah lenyap, hidup akan semakin jauh dari hidayah Allah. Jika jauh dari Allah, perbuatan kita akan sulit dikehendalikan dan hidup akan bebas “semau gue’. Kalau ada yang mengingatkan, dibalas begitu, beragam kerusakan moral, kerusakan ekonomi, kerusakan sosial, sampai kerusakan politik akan menghantui masyarakat.

Jangan sampai kita menjadi “penyembah” hawa nafsu yang tanpa malu mengorbankan harga diri dan martabat kita sebagai manusia yang diciptakan dengan segudang kemuliaan. Na’udzubillah. Orang seperti ini bahkan lebih hina daripada binatang ternak.

Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu  dapat menjadi pemelihara atasnya? Apakah kamu mengira kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (daripada binatang ternak itu.)”. (QS. Al-Furqan : 43-44).