Allah swt tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang bertakwa. Itulah yang terjadi pada wanita tabah, Ummu Syarik. Saat untuk kesekian kalinya ia mendengar ancaman dari keluarga suaminya, jari jemarinya hanya menunjuk-nunjuk ke langit membuat isyarat ahad (tauhid ). Ia berusaha terus seperti itu.

Tiba-tiba dadanya terasa sejuk, merasakan ada air datang kepadanya. Ia pun meneguknya sepuas-puasnya. Lalu timba pengangkut air itu ditarik. Ummu Syarik menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari-cari di mana timba itu, tahu-tahu tergantung antara langit dan bumi.

Ummu Syarik berusaha menggapai-gapai, timba itu kemudian mendekat. Segera ia meraihnya, mereguk sepuas-puasnya untuk menghilangkan dahaganya. Timba itu terangkat lagi antara langit dan bumi untuk ketiga kalinya bergelantungan di dekatnya. Ummu Syarik meminum lagi hingga kenyang, lalu kepala, wajah dan bajunya punia sirami.




Melihat Ummu Syarik merasa kesejukan, orang-orang penyiksa itu dipenuhi rasa heran dan curiga. Lalu mereka bertanya pada Ummu Syarik, ” Dari mana kau peroleh air itu, hai musuh Allah?”

“Musuh Allah? Kalianlah musuh Allah, manusia-manusia yang tidak menyukai agama-Nya. Kalian tanya dari mana air itu? Dari Allah. Dia memberiku rezeki!” jawab Ummu Syarik dengan berani.

Maka, cepat-cepatlah mereka pergi ke tempat air milik mereka. Ternyata timbanya masih ditempat semula tanpa berubah sedikit pun. Berarti Ummu Syarik tidak mengambil air milik mereka. Mengetahui kenyataan itu, tiba-tiba saja mereka insaf.

Setelah menyaksikan keajaiban itu, hati mereka terang, lalu bibir mereka berucap, “Sungguh kami bersaksi bahwa Tuhanmu adalah Tuhanku pula, Tuhan yang mendatangkan rezeki ditempatmu. Dialah yang menurunkan Islam.”

Akhirnya, seluruh keluarga Abul-Akr pun memeluk Islam melalui perjuangan tabah Ummu Syarik. Mereka berangkat menemui Nabi Allah, Muhammad saw di negeri seberang berbekal hidayah yang terang benderang.