Setiap pribadi yang memiliki jati diri sudah seharusnya bermuhasabah. Melakukan apa yang disebut sebagai introspeksi diri. Melihat kepada diri sendiri apa yang sudah dilakukan di masa lampau dan menilainya. Apakah ia lebih banyak melakukan kebaikan atau justru sebaliknya. Apakah ia lebih banyak melakukan amalan-amalan yang mendatangkan pahala, atau melakukan maksiat yang mendatangkan murka.

Begitu pula dengan umat Islam. Umat Islam merupakan sekumpulan manusia yang memiliki jati diri, yaitu Islam. Sebuah jati diri yang memiliki dua pedoman tetap dan konsisten: Al Qur’an dan sunnah Rasulullah Saw. Ya, sudah selayaknya umat Islam pun melakukan muhasabah, menginstrospeksi apa yang sudah kita lakukan selama beberapa waktu terakhir. Karena jika bukan kita sendiri yang mengintrospeksi diri, siapa lagi? Apakah umat beragam lain? Tentu saja bukan.

Sementara itu, akhir tahun merupakan tanda kita sebagai umat telah melewatkan satu periode waktu sepanjang duabelas bulan. Akhir tahun menjadi momentum yang sangat tepat untuk umat Islam bermuhasabah. Hal ini sungguh sangat diperlukan, bermuhasabah di penghujung tahun, berinstrospeksi, mengevaluasi diri, serta merenung atas apa yang telah dilakukan di masa lalu, apa yang telah dilakukan hari ini, dan apa yang akan dilakukan di masa depan. Ini merupakan tanda sebuah umat hidup dan bertumbuh.




Sebaliknya, umat yang mati tidak memiliki ambisi apapun. Tidak ada impian dan harapan, termasuk keinginan untuk berbuat suatu kebaikan. Mereka tidak memikirkan apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Umat yang mati tidak mengambil pelajaran atas peristiwa yang terjadi di masa lampau. Mereka tidak memikirkan apa yang sedang berlangsung hari ini. Mereka pun tidak memikirkan apa yang seharusnya dikerjakan besok.

Ini menjadi pertanyaan penting untuk masing-masing muslim dan muslimah di penjuru negeri. Apakah kita adalah umat yang hidup, atau sebaliknya?

Bersambung…