Ketika memasuki bulan Dzulhijjah, tandanya kita hampir melewatkan satu tahun periode kehidupan. Bulan ini juga merupakan bulan yang sangat spesial di mana tiba waktunya para umat Islam untuk melaksanankan ibadah haji, yang merupakan rukun Islam kelima, di tanah suci. Bulan Dzulhijjah juga merupakan bulan yang khusus dan Allah Swt menjanjikan limpahan pahala atas amalan-amalan yang kita lakukan.

Salah satu nasihat Syaikh Qaradhawi bagi kita pada momen menjelang akhir tahun adalah senantiasa bermuhasabah. Akhir tahun merupakan momen yang menjadi tanda kita telah melintasi satu periode dalam kehidupan, sehingga muhasabah menjadi langkah yang tepat agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik di tahun berikutnya.

Muhasabah merupakan hak sekaligus kewajiban kita sebagai umat muslim. Muhasabah adalah upaya kita dalam mengukur dan menimbang atas apa yang sudah diri kita lakukan di masa lampau. Muhasabah adalah bentuk kita mengevaluasi diri, khususnya ibadah-ibadah yang kita lakukan. Apa yang sudah kita kerjakan dan apa yang terlewat? Momen apa saja yang membuat kita menjadi manusia beruntung, dan mana yang membuat kita merugi? Seberapa banyak kebaikan yang sudah kita lakukan, dan seberapa banyak maksiat yang kita khilaf melakukannya?




Syaikh Qaradhawi menyampaikan bahwa dalam menjalani kehidupan ini, setiap muslim harus bisa membagi diri untuk menjadi 4 hal, yaitu bermunajah kepada Allah Swt, bermuhasabah, bertafakur, dan memenuhi kebutuhan raga.

Sebenarnya momen bermuhasabah juga baik dilakukan setiap hari ketika menjelang tidur. Itu merupakan waktu akhir dalam satu hari periode kehidupan, sebagaimana akhir tahun. Namun jika tidak memungkinkan kita bisa melakukannya per minggu, di setiap akhir pekan atau hari Jum’at misalnya. Pada waktu tersebut kita dapat melakukan introspeksi diri atas apa yang telah kita lakukan selama seminggu terakhir.

Tanyakan kepada diri sendiri berbagai pertanyaan yang dapat menimbang bagaimana diri kita dalam satu periode waktu terakhir. Perintah Allah Swt apa saja yang telah kita kerjakan? Larangan dari-Nya mana yang kita langgar? Tanyakan juga apakah pernah terbesit niat lain saat kita mengerjakan suatu amalan?

Bahkan jika kita tidak mampu melakukannya setiap pekan, setidaknya kita melakukannya setiap bulan, sebelum kita melakukannya di akhir tahun. Dan khusus di akhir tahun ini, luangkanlah waktu yang panjang di penghujung tahun. Allah Swt berfirman:

“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur.” (QS. Al Furqan [25]: 62)

Ayat ini mengingatkan kita untuk mengambil pelajaran atas apa yang telah kita perbuat. Kita harus menjadi orang yang cerdas, yaitu dengan pandai mengatur dan menghargai segala sesuatunya. Mereka yang cerdas juga menyadari dirinya adalah hamba yang hina, senantiasa menghakimi diri, dan bermuhasabah sebelum kelak dihisab di hari akhir. Mereka juga senantiasa berbuat untuk menyiapkan ajal yang sewaktu-waktu menjemput.

Rasulullah bersabda, “Orang yang cerdas adalah yang menundukkan dirinya dan beramal untuk persiapan sesudah mati. Sedangkan yang lemah adalah yang mengumbar nafsu dan berangan-angan terhadap Allah.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah)

Sementara orang yang lemah (bodoh) adalah mereka yang menuruti hawa nafsunya untuk berbuat sekehendak hati dan kerap berangan-angan. Ada perbedaan antara harapan dan angan-angan.

Sebuah harapan haruslah diikuti dengan tindakan. Kita mengharap rahmat dari Allah Swt, lalu bertindak mengarahkan tenaga, menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta berupaya dengan optimal. Sementara angan-angan adalah sebaliknya. Hanya berharap, namun tidak melakukan upaya dan tindakan apapun.

Manusia adalah subjek, karena itulah mereka harus bertindak. Bertindak melahirkan perbuatan, dan atas perbuatan yang kita lakukan inilah kita harus berinstrospeksi. Berinstrospeksi, bermuhasabah, akan melahirkan perbuatan yang lebih baik di masa depan. Baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Muhasabah merupakan langkah terbaik untuk menjadikan kita muslim yang lebih baik di periode berikutnya. Muhasabah juga merupakan cara kita bisa mengukur dan menimbang diri sendiri atas amalan-amalan yang kita lakukan.

Allahu’alam.