Melihat penderitaan umat Islam, Rasulullah menganjurkan agar mereka berangkat ke negeri Abyssinia untuk meminta perlindungan. Saat itu terjadilah hijrah pertama dalam Islam. Sebanyak kurang lebih delapan puluh orang melakukan perjalanan menuju negeri yang kala itu dipimpin oleh seorang Nasrani bernama Raja Najasyi.

Di sana umat Islam pun memperoleh perlindungan, meski sebelumnya ada utusan Quraisy yang datang membawa hadiah dengan harapan mereka diusir. Namun, Raja Najasyi yang memperoleh jawaban dari mereka tentang agama yang mereka peluk, memutuskan untuk memberikan perlindungan dan menolak permintaan Quraisy.

Dalam buku The Great Episodes of Muhammad yang ditulis oleh Dr. Al Buthy, ada beberapa hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa hijrah pertama ini.




Pertama, kita memperoleh pelajaran bahwa berpegang teguh dan menegakkan sendi-sendi agama adalah landasan dan sumber dari segala kekuatan. Karenanya para juru dakwah Islam dan para mujahid di jalan Allah wajib mempersiapkan segala sarana untuk melindungi agama dan prinsip-prinsipnya, serta menjadikan tanah air, negeri, harta benda, dan nyawa sebagai sarana untuk melestarikan dan meneguhkan aqidah.

Sunnatullah berlaku sepanjang masa bahwa kekuatan spiritual merupakan pelindung utama bagi segala hasil dan kekuatan material. Jika suatu umat kuat dalam akhlak dan aqidahnya, serta memiliki prinsip sosial yang benar, maka kekuasaan materialnya pun semakin kokoh.

Islam melegalkan konsep hijrah. Rasulullah menganjurkan para sahabat yang ditindas dan disiksa oleh musyrik—sehingga beliau mengkhawatirkan agama mereka—agar berhijrah, pergi meninggalkan kampung halaman. Kita ketahui bersama bahwa hijrah bukanlah sesuatu yang mudah dan menyenangkan. Perjalanan hijrah pada masa itu  penuh dengan kesulitan. Setibanya di sana mereka pun harus memulai hidup baru, mencari tempat tinggal, dan jalan nafkah. Semua itu ditempuh demi mempertahankan agama. Hijrah bagi mereka bukanlah melarikan diri dari tekanan dan masalah, melainkan sebaliknya untuk berkorban mencari jalan keluar dan meraih kemenangan.

Ada tiga hukum untuk hijrah dari negeri Islam, antara lain:

  • Wajib : jika seorang muslim tidak dapat menjalankan simbol-simbol Islam, seperti shalat, puasa, adzan, haji, dan sebagainya.
  • Mubah : jika seorang muslim menghadapi cobaan yang menyulitkannya di negeri tersebut.
  • Haram : jika hijrahnya menyebabkan terlantarnya salah satu kewajiban Islam yang tidak dapat dilaksanakan oleh orang lain di sana.

1 2