Masjid pertama yang dibangun oleh Rasulullah memiliki bentuk yang sama hingga masa khilafah Abu Bakar Ash Shidiq. Perbaikan baru terjadi pada masa Umar bin Khattab dan hanya sedikit, serta tetap mengacu pada bentuk awalnya. Renovasi besar-besaran dilakukan pada masa Ustman bin Affan, beberapa bagian masjid berubah secara signifikan. Seperti dinding masjid yang terbuat dari batu diukir dan diplester.

Merangkum dari buku sejarah karya Dr. Al Buthy, The Great Episodes Muhammad, ada empat hikmah dan pelajaran dari peristiwa pembangunan masjid pertama di Madinah ini.

>> Urgensi masjid di tengah masyarakat Muslim dan negara Islam




Membangun masjid adalah langkah penting dan utama dalam membentu komunitas muslim. Ketika itu Rasulullah mendirikan komunitas yang terdiri dari muslim Muhajirin dan Anshar. Hal ini dikarenakan terbentuknya masyarakat muslim yang kuat dan kokoh harus dimulai dengan spiritualitas masjid yang dipatuhi dan dipegang erat-erat, mengingat masjid adalah sumber dari sistem Islam yang mencakup akidah dan etika. Ada beberapa poin penting di sini, antara lain:

1. Terwujudnya ikatan persaudaraan sesama muslim

Masjid adalah sarana terbaik untuk menumbuhkan ikatan persaudaraan antar muslim. Masjid menjadi tempat untuk berjumpa satu sama lain setiap hari, serta akan menghilangkan sekat-sekat perbedaan seperti kedudukan, kekayaan, dan status sosial. Tanpa berjumpa di masjid, persaudaran akan sangat sulit terwujud.

2. Penyebaran ruh persamaan dan keadilan di tengah-tengah masyarakat.

Persamaan dan keadilan yang melampaui perbedaan status dan kedudukan mereka akan terwujud jika umat muslim berbaris dalam satu barisan setiap hari, berdiri bersama-sama menghadap Allah, dan hati mereka terpaut satu sama lain dalam ruang penghambaan kepada Allah Swt. Dengan kata lain, jika setiap muslim ruku dan sujud di rumah masing-masing  tanpa ketertautan dan kebersamaan, mustahil ruh keadilan dan persamaan dapat menundukkan sifat egois dan individualis yang sudah banyak mengakar di tengah-tengah masyarakat.

3. Bersatunya umat muslim di bawah hukum dan syariat-Nya.

Jika di tengah masyarakat Islam tidak ada masjid yang menjadi tempat berkumpul dan mempelajari hukum Allah dan syariat-Nya, persatuan dan kesatuan mereka perlahan akan runtuh. Umat muslim akan lebih mudah terpecah belah dan dikalahkan oleh ambisi duniawi.

>> Hukum bertransaksi dengan anak kecil yang belum baligh

Usia baligh adalah usia di mana seseorang bisa membedakan baik dan buruk. Sebagian fukaha, termasuk kalangan Hanafiah, menjadikan hadits tentang pembelian sebidang tanah milik dua anak yatim oleh Rasulullah tersebut sebagai dalil diperbolehkannya transaksi jual beli dengan anak yang belum mencapai usia baligh. Jika itu tidak sah, tentu Rasulullah tidak akan melakukannya.

Sementara kebanyakan fukaha yang tidak setuju bahwa jual beli dengan anak yang belum baligh tidak sah menggunakan firman Allah Swt berikut sebagai dalil, “Dan janganlah mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat sampai dia dewasa.” (QS. Al An’am [6]: 152)

Berkaitan dengan dua hal ini ada dua catatan penting, yaitu:

  1. Dalam riwayat Ibnu Uyainah disebutkan, Nabi tidak membeli langsung tanan tersebut dari kedua anak yatim, tetapi dari wali mereka. Jadi, pendapat kalangan Hanafiah tersebut tidak bisa dibenarkan dan tidak berdasar.
  2. Rasulullah memiliki hak perwalian dalam urusan demikian. Artinya adalah beliau bisa melakukannya karena memiliki kapasitas sebagai wali bagi seluruh umat muslim, bukan sebagai individu.

bersambung…

 

Oleh: An Nisaa Gettar

 

Baca juga: Pembangunan Masjid, Pilar Pertama Masyarakat Islami (1)