Pada artikel sebelumnya telah ditulis bahwa petikan hikmah dari peristiwa pembangunan masjid pertama di Madinah oleh Rasululah adalah: 1) urgensi masjid di tengah masyarakat Muslim dan negara Islam; 2) Hukum bertransaksi dengan anak kecil yang belum baligh.

Masih merangkum dari buku karya Dr. Al Buthy berjudul The Great Episodes of Muhammad, petikan hikmah selanjutnya adalah sebagai berikut:

>> Diperbolehkannya membongkar makam dan membangun masjid di atas tanahnya yang telah dibersihkan




Mengenai hadits pembongkaran makam, Al Nawawi berkata, “Hadits ini menunjukkan dibolehkannya membongkar makam lama dan menjadikan tanahnya untuk tempat shalat dan masjid. Syaratnya, bagian tanah yang bercampur nanah dan darah jenazah yang dikuburkan telah bersih dan disingkirkan. Hadits ini juga menjadi dasar dibolehkannya menjual tanah pemakaman, dan tanah tersebut tetap menjadi hak milik si pemilik yang bisa diwariskan selama belum diwakafkan.

Kuburan di tanah miliki kedua anak yatim tersebut adalah kuburan yang sudah lama. Jadi mustahil jika masih ada noda nanah dan darah dari jenazah. Meski demikian, Rasulullah tetap memerintahkannya untuk tetap digali, dibongkar, dan tulang belulang yang masih tersisa dipindahkan ke tempat lain.

Buku ini berpendapat makam kuno boleh dibaongkar dan tananhnya bisa dijadikan masjid jika tidak berstatus tanah wakaf. Jika berubah tanah wakaf, dia tidak boleh dialihfungsikan untuk keperluan apapun selain yang dikehendaki si muwakif.

>> Gambaran tentang hukum memugar, menghias, dan mengukir masjid

Memugar di sini adalah memperkokoh bagian-bagian masjid, seperti dinding, atas, dan pilar. Sementara mengukir dan menghias adalah memberikan tambahan hiasan pada bentuk asal bangunan masjid. Para ulama membolehkan pemugaran masjid dengan berdasar pada tindakan Umar dan Utsman. Meski Rasulullah tidak melakukannya, tidak berarti beliau melarangnya. Sebab pemugaran tidak akan merusak hikmah pendirian masjid, tetapi justu memperlihatkan umat muslim yang perduli terhadap syiar-syiar Allah.

Sedangkan mengukir dan menghias masjid ada perbedaan di kalangan ulama. Namun, mereka bersepakat bahwa biaya keduanya tidak boleh menggunakan harta wakaf. Bagi sebagian pendapat yang memakruhkannya, tentu tetap menjadi catatan penting bahwa jangan sampai hiasan yang dibuat mengganggu kekhusyuan shalat dan menyibukkan mereka dengan memperhatikan keindahan duniawi.

Allahua’lam bish shawab

(Sumber: The Great Episodes of Muhammad oleh Dr. Al Buthy)

 

Oleh: An Nisaa Gettar

 

Baca juga: Pembangunan Masjid, Pilar Pertama Masyarakat Islami (1), Pembangunan Masjid, Pilar Pertama Masyarakat Islami (2)