Cerita ini tentang beliau yang ku panggil papa, dan beliau yang kupanggil mama. Mereka orang tuaku selama 26 tahun hidup ku. Alhamdulillah, sampai usiaku menginjak angka 30, mama masih ada disampingku, saat ini detik ini sampai saat aku menulis ini. Tapi tidak dengan papaku. Allah menyayanginya dan menyuruh malaikat Izrail menjemput papa, 3 tahun lalu.

Ini cerita tentang aku, perjuanganku, jatuh bangun hidupku, dan tentang pemikiran serta caraku memandang dunia. Nama ku Ray, lahir tepat 30 tahun yang lalu. Dari keluarga yang bisa dibilang berkecukupan, bahkan mungkin lebih, karena papaku adalah seorang Insinyur. Aku sulung, dari seorang adik perempuan yang cantik, dan manja. Setidaknya, hidupnya lebih beruntung dari aku.

30 tahun lalu, aku adalah pria kristiani yang lahir dari orang tua yang juga kristen tentunya. Tapi sedikit cerita tentang agama mama ku, dia dulu adalah wanita muslim yang sangat disayangkan jatuh cinta dengan pria kristiani, seperti sosok papaku.




Cinta menguasai seluruh hidup mamaku saat itu, ketika keluarga dari papa memutuskan hubungan asmara mereka karna perbedaan keyakinan, mama jatuh sakit karna tidak bisa berpisah dengan pria yang dianggapnya waktu itu adalah cinta sejatinya. Epilepsi, itulah penyakit mama mulai dari sakit pertama kali saat perpisahan terjadi sampai detik ini, penyakit itu menemani hari-harinya.

Karna alasan tidak bisa berpisah dari papa, keluarga papa akhirnya setuju menikahkan mereka dengan persyaratan mama harus menjadi seorang kristiani juga. Jadilah mama menjadi seorang wanita kristiani dan menikah dengan lelaki yang amat sangat ia cintai. Keluarga besar mama hanya bisa berlapang dada, demi kebahagiaan dan kesehatan mama.

Tak perlu waktu lama, lahirlah aku menjelang setahun usia pernikahan mereka. Aku diberi nama Ray Arya Bijak. Jangan tanya mengapa ada kata bijak di namaku, aku sendiri tidak terlalu tertarik mencari tahu alasannya, mungkin orang tuaku ingin aku menjadi pribadi yang bijaksana. Semoga saja prediksi ku itu benar.

Cerita masa kecilku, tidak terlalu menyenangkan. Ayahku sangat otoriter, keras, dan ringan tangan. Ntah sudah berapa kali aku menjadi bahan pelampiasannya saat ia merasa kesal, marah akan sesuatu hal yang mungkin sama sekali gak aku mengerti.

Pernah sekali, saat pulang sekolah, waktu itu aku masih kelas 2 SD. Pulang kerumah, tanpa sempat mengganti pakaian seragam, tiba-tiba papa memukulku. Ada apa ini? Fikirku. Sayangnya, tanpa sempat menanyakan hal itu tubuh kecil ku sudah hampir babak belur di pukuli papa.

Papa menyuruhku melepaskan seragam sekolah, sepatu bahkan sampai pakaian dalam yang saat itu sedang aku kenakan. “Kembalikan semua barang-barang yang dibeli pakai uang ku!” begitulah kata papa yang kuingat jelas sampai sekarang.

 

bersambung..

 

oleh: Chairunnisa Dhiee