Berbakti Kepada Orangtua Adalah Bagian Dari Jihad




Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka. Ucapkanlah kepada mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu, jika kamu orang-orang yang baik, sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.” (QS. Al-Isra’ : 23-25)

Sejarah mencatat bahwa Rasulullah saw, hidup dalam keadaan yatim piatu saat berusia enam tahun. Bayangkan, pada usia yang demikian belia, beliau telah ditinggal oleh kedua orang tuanya. Sungguh, Allah Yang Maha Memelihara dan Maha Menolong kekasih-Nya itu.

Hidup tanpa orangtua sangat tidak nyaman. Belaian kasih sayang ibu dan ayah tidak lagi dapat kita rasakan. Itu pula yang dirasakan Rasulullah saw sewaktu kecil. Bagi beliau, orangtua adalah sosok yang harus dihormati dan dimuliakan meskipun telah meninggal dunia. Demikian tinggi kedudukan orangtua hingga seorang pemuda yang mau berjihad pun harus mendapat restu dari mereka.




Suatu hari ketika Abu Hurairah ra datang kepada Rasulullah saw, beliau berpaling darinya. Melihat keanehan tersebut, Abu Hurairah ra bertanya, “Wahai Rasulullah, aku melihat engkau berpaling dariku. Aku tidak pernah melihat engkau melakukan hal itu kecuali karena ada sesuatu yang telah sampai kepadamu.”

Rasulullah saw memberi jawaban, “Sungguh ibumu telah mengambil sumpah darimu. Ia mengeluarkan payudaranya, lalu mengambil sumpah darimu demi air susunya. Apakah seseorang dari kalian mengira bahwa ketika ia bersama kedua orangtuanya atau salah satu dari keduanya berarti ia tidak sedang berjihad di jalan Allah? Sesungguhnya, berbakti kepada kedua orang tua dan menunaikan apa yang menjadi hak keduanya termasuk berjihad di jalan Allah.” Ternyata hal itulah yang membuat Rasulullah saw berpaling dari Abu Hurairah ra.

Abu Hurairah ra berkata, “Sungguh, sesudah kejadian itu aku menemani ibuku selama dua tahun dan tidak ikut berperang. Ketika ibuku telah meninggal, barulah aku kembali ikut berperang.”

Di lain waktu, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “Amalan apakah yang paling disukai oleh Allah?”

Beliau bersabda, “Shalat pada waktunya.”

“Kemudian apa lagi?” tanya sahabat.

Beliau bersabda, “Berbuat baik kepada kedua orang tua.”

“Kemudian apalagi?”

Beliau bersabda, “Berjihad di jalan Allah.”

Sungguh betapa junjungan kita Rasulullah saw, memberi penghormatan yang tinggi terhadap kedudukan orangtua hingga berbakti kepada mereka melebihi jihad fisabilillah. Sungguh merugilah jika kita menyia-nyiakan kedua orangtua kita.

Leave a Reply