Masjid Markazi Jamia yang dibangun lebih dari satu abad yang lalu masih berdiri tegak di antara bangunan bersejarah lainnya di kota Rawalpindi, Pakistan. Masjid ini pun tampak menonjol karena seni mozaik dan kacanya yang unik. Meskipun eksterior masjid telah berubah karena cuaca, namun bangunan interiornya masih mampu membawa kita kembali ke masa-masa di mana bangunan tersebut tengah dikonstruksi –ya, sebuah masa di mana setiap benda dan bangunan dibuat agar berdiri abadi. Batu-batu pondasi Masjid Markazi Jamia diletakkan pada tahun 1903 dan selesai pada 1905 selama masa pemerintahan King Edward VII.

Pengamatan yang dilakukan oleh harian The Express Tribune menyampaikan bahwa kekayaan seni berupa emas dan mosaik yang begitu indahlah yang menambah keanggunan Masjid Markazi Jamia ini. Bahkan interior masjidnya sama sekali tidak tersentuh sejak kali pertama dibangun. Kita akan mendapati pemandangan panoramik masjid seketika melangkah memasuki gerbang bergaya tradisionalnya. Sementara halaman masjid dapat dijumpai di area timur yang merupakan satu-satunya pintu masuk.

Kekayaan seni pada masjid ini terletak pada emas dan seni mosaik yang begitu anggun membentuk pola floral berwarna warni, seperti merah, hijau, biru, dan kuning. Menurut sumber sejarah, fondasi ini dibuat pada tahun 1903 ketika pangeran Afghanistan, Shah Muhammad Ayub, sedang berada dalam pengasingan.




Masjid Markazi Jami

(Foto: Masjid Markazi Jamia/The Express Tribune)

Seorang ahli sejarah, Shiraz Haider, mengatakan bahwa pada tahun 1903 saat Masjid Markazi Jamia dalam masa pembangunan, ada sekitar 80 masjid-masjid kecil di sekitar kota. Namun tidak ada di antara masjid-masjid tersebut yang bisa digunakan untuk shalat Ied dan shalat Jumat mengingat ukurannya yang kecil. Ketika itu sebagian besar muslim melaksanakannya di Masjid Mian Nabi Bakhsh di Purana Qilla.

Kemudian, Qazi Gauhar Ali, Mian Qutbuddin dan Mian Nabi Bakhsh bergabung untuk membangun Markazi Jamia di mana muslim di seluruh kota bisa melakukan shalat Ied dan shalat Jumat di sana. Selain itu, masjid ini dibangun juga agar umat Islam memiliki tempat ibadah yang bisa dibanggakan di depan para penganut Hindu.

Untuk mengumpulkan biaya pembangunan, Qazi Sirajuddin, seseorang yang berpengaruh pada masa itu pergi ke luar wilayah Punjab (sebutan Rawalpindi kala itu). Namun donasi yang terkumpul tidak cukup untuk biaya konstruksi. Karena itu para penduduk wanita lokal di sana menjual perhiasannya. Beberapa donaturnya adalah Seth Adamjee dan Set Karem Bakhsh dari Peshawar.

Pembangunan masjid selesai pada tahun 1905 dan Maulana Muhammad Makrani menjadi khatib pertamanya. Sementara imam yang memimpin pada shalat Jumat pertama adalah Syed Mahmood Shah yang juga dihadiri oleh ulama Golra Sharif.

Interior masjid

Sebuah air mancur yang begitu cantik berdiri di tengah-tengah halaman masjid yang luas, yang dapat mengakomodasi sekitar 8.000 orang jamaah. Selain itu ada sebuah ruangan yang dikhususkan bagi para siswa untuk mengaji Al Qur’an. Jika melihat ke bagian atas dinding bangunan, kita akan menjumpai seni lukisan tangan yang mempesona. Susunan batu bata berukuran lebih kecil dibandingkan batu bata pada umumnya menjadi lantai yang kemudian dilapisi dengan dekorasi karpet. Sementara di bagian bawah dinding dilapisi dengan ubin keramik untuk menghindari kelembaban. Terdapat juga sebuah mihrab yang didekorasi dengan cermin dan menara marmer yang terletak di posisi tengah bangunan bagian arah kiblat.

 

Oleh: An Nisaa Gettar