Papa menyuruhku melepaskan seragam sekolah, sepatu bahkan sampai pakaian dalam yang saat itu sedang aku kenakan. “Kembalikan semua barang-barang yang dibeli pakai uangku!” begitulah kata papa yang kuingat jelas sampai sekarang.

Aku pun membuka satu persatu mulai dari seragam sekolah, sepatu, dan pakaian dalam, tas sudah terlepas dari tangan sejak pukulan pertama papa di bagian lengan ku. Tidak cukup memukuli ku, papa mengusirku dari rumah. Dia memaksa ku keluar dari rumah saat itu juga, tanpa peduli aku tak berpakaian sehelai benang pun. Ini bukan cerita sinetron yang biasa kalian lihat di televisi, ini cerita masa kecil ku. Dan aku tak akan memaksa kalian untuk percaya. Karna, percayalah hanya pada Allah Azza Wa Ja’ala. Ini hanya cerita, cerita yang mungkin saja bisa kalian ambil manfaatnya. Sekalipun tak ada manfaat yang kalian temui dari cerita ini. Anggap saja aku ingin berbagi cerita yang mungkin tak berarti sama sekali untuk para pembaca.

Kita mulai lagi..




Badanku yang hampir babak belur mau gak mau keluar dari rumah, bukan cuma karna papa mengusirku, tapi aku juga gak pingin mati ditangan beliau yang katanya papaku. Jangan tanya mamaku dimana saat kejadian itu, mama ada dan mama melihat kejadian itu. Tapi mama tak bisa berkutik, ia terlalu mencintai suaminya mungkin, atau mama takut papa semakin marah dan ia dijadikan pelampiasan selanjutnya. Atau mungkin, mama takut ditinggal papa, apalagi mama tidak bekerja ditambah dengan penyakitnya, bisa jadi ia gak siap ditinggal tiba-tiba oleh papa kalau membelaku. Ah sudahlah,, aku tak terlalu ambil pusing, saat itu aku masih bocah, pikiran ku belum terlalu banyak tentang “mengapa” dan “kenapa”.

Aku keluar rumah sambil berlari sekuat tenaga yang tersiksa. Banyak tetangga yang menyuruhku untuk kerumahnya, mereka kasihan padaku. Akhirnya aku memilih kerumah bude yang cuma beda 2 lorong dari rumah papa. Bude kaget campur aduk melihat kondisiku yang tanpa busana dan lebam-lebam terduduk di depan pintu rumahnya. Syukurnya, aku masih bocah, berlari tanpa busana tidak terlalu masalah untukku dan orang-orang yang melihat.

Singkat cerita, sejak kejadian itu si mbah dari pihak mama yang tinggal di daerah Cipanas sering mengunjungiku dan membawaku ke puncak untuk tinggal beberapa hari bersamanya. Mungkin masa kecilku memang kurang menyenangkan, namun tinggal bersama si mbah menjadi hal yang paling menyenangkan sepanjang masa kecilku, sekalipun aku hanya bisa weekend tinggal bersama mbah di Puncak. Aku bersyukur, Allah swt mengirimku malaikat baik hati di sela kehidupan masa kecil sampai remajaku yang sangat keras, beliau adalah mbahku.

Oh iya, mbah ku ini muslim. Beliau mama dari mamaku, beliau wanita sunda yang sejak lahir sampai akhir hidupnya tinggal di dataran tinggi Cipanas. Biar aku gambarkan sosok mbah yang sangat kucintai itu, beliau tak terlalu tinggi, mungkin sekitar 158 cm. Badannya tak begitu gemuk, tapi cukup berisi. Wajahnya kecil, begitu pun dengan segala panca indera yang ada di wajahnya. Rambut nya panjang berwarna blasteran hitam dan sedikit uban putih. Rambut panjang nya itu selalu di ikat rapi menggulung menggunakan tusukan kayu, lebih mirip sumpit. Dan yang selalu aku ingat dari mbah, beliau selalu menggunakan atasan seperti kebaya dengan bawahan kain batik. Persis seperti perempuan-perempuan Jawa kebanyakan.

 

bersambung…

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee

 

Baca Juga:

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 1)