Ada banyak hal yang kuingat dari mbah, itu adalah kenangan-kenangan manis sepanjang hidupku. Sampai dewasa ini pun, tak ada hal manis yang kurasakan semanis kenangan-kenangan bersama mbah. Hal yang selalu kuingat saat bersama mbah, setiap beliau solat aku selalu menaiki punggungnya setiap kali mbah dalam keadaan sujud. Aku masuk dalam mukenanya, setiap kali beliau sedang takbiratul ihram. Dan, selalu menendang-nendangnya setiap kali beliau rukuk.

Bertahun-tahun aku melakukan hal itu sampai saat aku tahu kegiatan yang selalu mbah lakukan itu adalah shalat, ibadah orang Islam. Sebagai bocah kristiani, aku sama sekali tidak mengerti hal itu, apalagi aku kecil selalu ke gereja, mengikuti sekolah minggu walaupun aku di rumah mbah. Orangtua ku selalu mendoktrin aku tentang semua ajaran Kristiani.

Mbah tak pernah sekalipun memarahi perlakuan ku tersebut. Selesai shalat, mbah selalu tersenyum dan memelukku. Dia selalu komat kamit di kepalaku sambil mengelus lembut kepala bocah nakal ini. Dan sekarang aku tahu, komat kamit itu adalah bacaan surah al fatihah.




“mbah tadi itu lagi shalat, lain kali jangan begitu lagi ya cucu lanang mbah” kata mbah sambil melipat mukenanya.

“shalat itu apa mbah? kenapa dirumah ray gak ada ini.”pertanyaan polosku.

“janji sama mbah ya ray, suatu hari nanti kamu bakal shalat dirumah kamu, dirumah mbah, dan dirumah Allah” jawab mbah.

Sejak saat itu, aku semakin sering bertanya tentang shalat, siapa itu Allah, dan kenapa mbah sering shalat, kenapa mbah tidak makan (puasa), disaat aku makan. Kenapa mbah pergi ke rumah yang ada ukiran bintang dan bulan, sementara aku kerumah yang bertanda tambah?? Kenapa mbah harus menggunakan kain dan sarung putih(mukena), sementara aku berpakaian rapi dan bernyanyi saat menemui-Nya (ibadah)??

Semua pertanyaan ini hanya sebagian kecil dari beribu pertanyaan yang ada diotakku saat itu. Aku semakin sering minta diantar kerumah mbah, kalau mbah gak datang ke Jakarta menjemputku. Aku selalu menangis setiap kali papa mama memaksa untuk pulang ke Jakarta karna esok harinya aku harus sekolah. Aku gak mau pulang, aku mau tinggal bersama mbah. Ntahlah, aku menemukan perasaan nyaman yang begitu nyaman saat bersama mbah dirumahnya. Melihat beliau bangun subuh untuk shalat subuh, mendengar beliau membaca buku yang setelah aku tahu ternyata itu Al-Quran, melihat mbah menanam pohon cabe dan wartel di kebun samping rumah. Ah,, banyak lagi yang bisa kulihat dari kehidupan mbah, dan itu adalah pemandangan terindah.

Saat itu, aku sudah kelas 6 SD. Dan aku sudah sedikit tahu tentang Islam, dan perbedaannya dengan Kristen, meskipun tak begitu ku mengerti. Saat itu weekend kesekian kalinya aku dirumah mbah, hari minggu pagi. Aku ikut bangun saat mbah bergegas bangun mendengar adzan subuh. Seperti biasa mbah shalat subuh, dan aku hanya duduk disamping beliau. Aku memperhatikan setiap gerakan shalat. Sampai mbah selesai shalat, dan seperti biasa mbah memeluk sambil mengelus lembut kepalaku. Aku suka momentum itu, aku merasa nyaman dan hangat dalam pelukan mbah yang masih utuh dengan mukenanya. Dan ntah darimana datangnya, secara sadar dan tenang aku katakan ini pada mbah, “Mbah, suatu hari nanti Ray mau jadi orang Islam. Ray mau shalat bareng-bareng mbah.”

Mendengar omongan ku tadi, mbah langsung meng-aamiin kan. Tulus sekali aamiin yang beliau ucapkan. Mbah memelukku semakin erat, beliau menangis, “Ray kamu itu anak laki’, cucu lanang mbah pertama. Lelaki itu harus bisa di pegang dan ngebukti omongannya Nak.”

“Ray janji mbah, ray janji suatu hari nanti ray jadi orang Islam.” itulah janjiku pada mbah saat itu. Jujur aku sendiri, belum tahu pasti kapan aku akan mengganti keyakinanku menjadi seorang muslim. Tapi dengan janji ku itu, kulihat ada kebahagiaan lain dari mata mbah yang seakan selama ini redup. Mbah terlihat sangat bahagia dengan ucapanku tadi, dan kuberharap suatu saat nanti ntah kapan aku bisa menjadi pria muslim sesuai janjiku pada mbah. Dan mbah bisa melihat cucu lanang nya ini adalah lelaki sebenarnya yang bisa dipegang ucapannya dan membuktikan janjinya. Itulah janjiku.

 

bersambung…

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee

 

Baca Juga:

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 1)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 2)