Menghadapi Kebimbangan di Antara Banyak Pilihan




Life is choice. Hidup ini memang penuh dengan banyak pilihan. Bahkan di masyarakat modern mungkin kita pernah mendengar istilah ini, untuk memaksimalkan kebebasan maka maksimalkanlah pilihan. Akhirnya kitapun membuat begitu banyak pilihan, yang pada akhirnya berujung pada kebingungan. Ya! Setiap hari kita dihadapkan pada pilihan-pilihan. Tidak hanya tentang hal-hal sederhana seperti memilih pakaian atau menu makan siang, tapi juga hal-hal yang lebih rumit seperti agama, pasangan, atau pedoman hidup. Tidak jarang pilihan dan kebebasan menjadi sisi mata uang yang tidak terpisah. Pilihan adalah wujud dari kebebasan itu sendiri.

Psikolog Barry Schwartz menyampaikan bahwa semakin banyak pilihan justru dapat menyebabkan seseorang semakin tidak puas dengan pilihan yang dibuatnya. Terlalu banyak pilihan akhirnya membuat seseorang paralisis dalam membuat sebuah keputusan. Pandangan tentang banyaknya pilihan sebagai wujud dari kebebasan juga sering menimbulkan perdebatan seputar peraturan agama.

Mengutip pada laman muslimmatters.org, berdasarkan pada teori psikolog Schwartz, terlalu banyak pilihan dapat menyebabkan empat permasalahan berikut:




  1. Paralisis dalam membuat keputusan

Ketika dihadapkan dengan begitu banyak pilihan, kita cenderung panik bukannya menyadari bahwa kita sedang memiliki banyak alternatif. Bukannya kebebasan yang kita dapatkan, tapi justru kegelisahan dan lumpuh atau stucked dalam memilih. Keputusan pun menjadi sulit untuk dibuat.

  1. Tidak puas dengan hasil

Setiap keputusan selesai dibuat selalu tidak puas, karena dengan banyaknya pilihan seseorang akan cenderung membayangkan bahwa hasil lebih baik bisa diperoleh dengan pilihan yang lain. Hingga tidak jarang akhirnya menyesal.

  1. Selalu menambah ekspektasi

Semakin banyak pilihan, maka ekspektasi akan hasilnya pun turut meningkat. Seseorang dengan banyak pilihan selalu berpikir bahwa satu di antara banyaknya pilihan pasti sangat baik, sehingga setelah keputusan dibuat mereka menjadi tidak puas dan merasa kurang.

  1. Menyalahkan diri sendiri

Jika kita tidak puas dengan keputusan yang dibuat, kita pun cenderung untuk menyalahkan diri sendiri. “Coba saja saya pilih A bukan B.”

 

Schwartz menambahkan, pilihan bukan berarti harus sedikit, tapi bukan juga tidak terbatas.

Leave a Reply