Allah Tidak Pernah Salah




Tamu Sulaiman duduk dengan gelisah. Sudut matanya menangkap sosok di ujung sana terus menerus menatapnya. Ia sempat berpikir bahwa itu hanya perasaannya saja. Mungkin orang tersebut hanya sepintas saja menatapku. Sang tamu pun kembali melanjutkan perbicangannya dengan Sulaiman. Namun, perasaan resah masih menggelayuti pikirannya.

Sulaimun pun menangkap kegelisahan tamunya tersebut, sehingga ia bertanya. “Saudaraku, kulihat sejak tadi engkau begitu tidak tenang. Apakah sambutanku tidak membuatmu senang?”

“Oh? Tidak,” sang tamu menjawab cepat. “Sambutanmu justru melebihi dugaanku. Kau sungguh orang yang sangat mulia.”




“Lalu, apa yang membuatmu resah? Mungkin aku bisa membantumu.”

Tamu tersebut menghela napas. “Selama berbincang denganmu, aku menangkap seseorang terus menerus menatapku dari ujung sana. Siapakah dia?” Tanya sang tamu begitu penasaran.

“Oh, dia adalah malaikat mau sahabatku.”

“Ah ya. Dia selalu menatapku seolah aku adalah sasaran yang akan ia cabut nyawanya.” Sang tamu masih tampak resah.

“Baiklah, untuk menenangkan hatimu, adakah sesuatu yang kau inginkan?” Sulaiman pun memberikan tawaran.

“Terima kasih. Aku berharap sekarang aku sedang berada di tempat yang jauh. Andai saja aku berada di India.”

“Dengan anugerah dari Allah, aku bisa melakukannya. Aku akan meminta udara untuk mengantarkanmu ke India.” Tidak lama kemudian, atas izin Allah udara pun membawa tamu Sulaiman ke India.

Setelah beberapa waktu berlalu malaikat maut kembali muncul di istana Sulaiman. “Wahai sahabatku, mengapa kau terus menerus menatap tamuku tadi hingga membuatnya resah?” tanya Sulaiman.

“Allah memerintahku untuk mencabut orang tersebut di India. Aku sempat bingung karena dia masih ada di sini, di tempatmu. Tapi kini aku sudah menunaikan tugasku.”

Sulaiman kembali bertanya, “Apakah kau menemui tamuku tersebut di India?”

“Ya. Allah memang tidak akan pernah salah. Sesuai perintah-Nya, aku telah mencabut nyawa orang tersebut di India,” jawab malaikat maut.

Kematian adalah perkara yang paling dekat. Allah sudah mencatat waktu kematian setiap hamba-Nya sebelum hamba tersebut terlahir ke dunia. Sang Pencipta tidak akan pernah salah tentang kapan seorang hamba harus pergi kembali menghadap-Nya.

Allah Swt berfirman, “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan, ‘Ini adalah dari sisi Allah,’ dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencara mereka mengatakan, ‘Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad).’ Katakanlah, ‘Semuanya datang dari sisi Allah.’ Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun.” (QS. An Nisaa [4]: 78)

Kematian ini juga disampaikan di ayat lainnya.

“Dan Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya, dan diutus-Nya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS. Al An’am [6]: 61)

Allahua’lam.

Oleh: Malaika Shadleen 

Leave a Reply