Katakanlah, “aku beriman kepada Allah”, kemudian teguhkan pendirianmu. (HR.Ahmad)

Para sahabat saw, adalah orang-orang yang memiliki keimanan yang tinggi. Mereka rela berkorban harta benda, bahkan bertaruh nyawa untuk tetap meyakini bahwa Islamlah agama yang lurus dan suci.

Pada zaman Rasulullah saw, ada sahabat yang menjadi budak kalangan kafirin. Pada masa itu, jual beli budak ibarat jual beli ternak. Majikan bisa berbuat semaunya kepada si budak. Hal itu juga dialami oleh sahabat yang bernama Bilal bin Rabah ra. Setelah masuk Islam, dia kerap mendapat siksaan dari majikannya, Umayyah bin Khalaf.




Bilal bin Rabah ra, pernah dicambuk, dijemur di padang pasir, hingga ditindih batu besar oleh majikannya. Si majikan tidak rela budaknya itu mengikuti ajaran Rasulullah saw. “Andai kamu keluar dari Islam, tidak seperti ini penderitaannya,” kata majikan tersebut.

Namun Bilal tetap pada pendiriannya, “Aku tetap menyembah Allah, Ahad, Ahad, Ahad..”

Akibatnya, penyiksaan terhadap Bilal bin Rabah ra, pun terus berlanjut dan terus dilakukan oleh pelaku yang berbeda. Suatu waktu dilakukan oleh Abu Jahal, lain waktu oleh kaum musyrikin lainnya. Kabar penyiksaan Bilal itu akhirnya didengar Rasulullah saw, dan para sahabat. Abu Bakar ra segera mendatangi Umayyah bin Khalaf dan membeli Bilal bin Rabah ra. Setelah bebas, Bilal menjadi muazin sampai akhir hayatnya.

Suatu saat, seorang sahabat mengeluhkan penderitaannya akibat perlakuan orang-orang musyrikin. Sahabat itu merasakan betapa berjuang di jalan Allah tidak seperti membalik telapak tangan . Ia mengadu kepada Rasulullah saw,”Wahai Rasulullah, tidakkah engkau bisa memohon pertolongan?” pintanya.

1 2