“Ray janji mbah, ray janji suatu hari nanti ray jadi orang Islam.” itulah janjiku pada mbah saat itu. Jujur aku sendiri, belum tahu pasti kapan aku akan mengganti keyakinanku menjadi seorang muslim.

Itulah janjiku, janji seorang Ray Arya Bijak pada seorang wanita tua yang begitu aku cintai melebihi rasa cinta ku pada mama. Mbah menjadi satu-satunya sosok yang selalu bisa menghapus air mata ku, menghilangkan rasa sedih ku dengan cara-cara sederhananya, beliau yang selalu menjadi pelindungku saat papa berlaku kasar padaku. Saat menulis ini, air mata ku begitu saja jatuh mengingat tentang mbah. Aku merindukan mu mbah…

Waktu begitu cepat berlalu, meninggalkan kenangan yang sebenarnya tak ingin ku lepas pergi bersama angin dan waktu. Setelah momen perjanjian ku pada mbah, hidupku masih seperti biasa tidak ada perubahan ke arah lebih baik. Aku masih bolak balik jakarta-puncak setiap weekend, ke gereja dan sekolah minggu, memperhatikan gerakan shalat mbah, dengari mbah ngaji setiap kali dirumah mbah. Kadang aku membangunkan mbah kalau mbah ketiduran saat adzan subuh. Ayah masih suka memukuliku, bahkan lebih sering. Setiap ada masalah di kantornya, kesalahan kecil yang ku buat tanpa sengaja, bisa jadi alasan papa memukulku. Aku sampai bosan, dan lupa sudah berapa kali jadi bahan pelampiasannya.




Waktu mengajarkanku banyak hal, semua hal tentang pernak pernik kehidupan. Tentang bersabar walaupun kamu ingin marah, tentang bertahan ditengah jutaan alasan kamu ingin menyerah, dan tetap mencintai disaat kamu membenci. Pelajaran ini bukan saja ku dapat dari sosok mbah, tapi juga dari sosok papa yang keras, kasar dan lainnya, tapi aku tetap belajar mencintainya walaupun aku ingin sekali membenci papa. Tidak, Mbah tidak mengajarkan ku demikian, aku ingin tetap belajar mencintai papa.

Saat itu aku kelas 1 atau 2 SMP, aku lupa pastinya. Tapi aku ingin cerita pengalaman ku pertama kali menginjakkan kaki ke masjid. Bukan untuk beribadah, karna saat itu aku bocah Kristiani, bukan seorang anak muslim. Aku ingat banget saat itu hari Jumat. Bersama 4 orang teman kelas ku, kami bolos sekolah dan melarikan diri dari sekolah menuju Monas. Saat itu masih zaman-zamannya bus patas bekasi – jakarta. Ya, aku tinggal dan bersekolah di Bekasi, dan setiap bolos sekolah pelarian ku cuma ke jakarta.

Berhubung hari Jumat, dua orang teman ku Andi dan si Ncup,tunggu dulu si Ncup sebenarnya punya nama asli Yusuf Syafi Ibrahim. Tapi menurut nama itu terlalu bagus untuk bocah tengil seperti Ncup, dan ku kira dia lebih keren dan pas di panggil Ncup. Kembali ke cerita sebelumnya, jadi kedua orang temanku ini berencana untuk shalat Jumat. Mendengar mereka mau shalat Jumat, ada dorongan besar dihati ku untuk ikut mereka ke masjid. Bukan cuma sekedar untuk ngadem karena cuaca saat itu memang terik sekali. Tapi, ada dorongan besar melebihi rasa sekedar ngadem, aku pingin tahu apa itu shalat Jumat dan mengapa harus!

Beni teman ku yang juga seorang Kristiani, awalnya meragukan keinginanku untuk ikut Andi dan Ncup ke masjid Istiqlal. Yah, karena kita lagi main di Monas, pilihan masjid terdekat untuk shalat Jumat hanya masjid Istiqlal.

loe ngapain ikut bocah bocah ini shalat Ray?” tanya Beni sambil terus mengepul asap rokoknya yang tinggal seujung.

gue mau tahu ngapain aja sih pas shalat Jumat, kenapa gak shalat senin kek, selasa kek, atau apa kek gitu. Napa harus dinamai shalat Jumat?” jawab gue.

ah alasan lu, al kitab noh loe baca, cari tahu isinya. Kaya udah bener aje jadi orang Kristen!”  sekak Beni.

berisik loe, Andi ama Ncup aje gak bawel.” jawabku sambil berlalu meninggalkan Beni dan berlari mengejar Andi dan Ncup yang sudah berjalan ke masjid Istiqlal.

 

bersambung…

Oleh : Chairunnisa Dhiee

Baca Juga:

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 1)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 2)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 3)