Lisan yang Enggan Berdzikir




(Yaitu) orang-orang yang beriman
dan hati mereka menjadi tentram dengan dzikir kepada Allah.
Ingatlah bahwa hanya dengan dzikrullah hati menjadi tenang.

(QS. Ar Ra’d [13]: 28)

Ketika kita berdzikir sesungguhnya kita tidak menguntungkan siapapun melainkan diri kita sendiri. Karena dengan melakukannya, hati kita akan menjadi tenteram. Allah Swt telah berpesan pada ayat tersebut. Jika kita terbiasa mengucapkan kalimat Allah Swt, insyaAllah itu adalah kalimat spontan yang kita keluarkan saat bereaksi spontan.

Saat kita jatuh kita tidak akan mengucapkan “Aduh!’, tetapi “Innalillah!” Saat kita melihat pemandangan yang menakjubkan kita tidak akan mengucapkan “Keren!”, tetapi “MasyaAllah!” Ketika kita kecewa kita tidak akan mengucapkan “Kecewa saya”, tetapi “Astaghfirullah.” Lisan kita akan penuh dengan kalimat Allah, dan bukan sebaliknya yang bisa membawa keburukan.




Dengan seringnya mengucap dzikir, sebagai hamba kita pun berharap bahwa ucapan-ucapan tersebut pula yang akan mengiringi saat sakaratul maut nanti, sehingga kita berkesempatan meninggal dalam kondisi khusnul khotimah, bukan sebaliknya.

Pernah dikisahkan oleh Manshur bin Nashir (ditulis pula dalam buku Surga bagi Si Ahli Maksiat), pernah ada seorang pemuda yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi di jalan antara Mekkah dan Jeddah, mengalami kecelakaan yang mengerikan. Si pemuda pengembara mobil pun memiliki kondisi yang mengenaskan dan dalam kondisi sakaratul maut. Para masyarakat yang berada di sekitar lokasi kejadian berusaha membimbingnya mengucap kalimat tauhid.

Sayangnya, hingga ajal benar-benar menjemput si pemuda tersebut tidak berhasil mengucapnya. Sebelumnya ia hanya melafalkan gumaman yang tidak jelas. Kemudian terceritakan bahwa semasa hidupnya sang pemuda tidak terbiasa membasahi lidahnya dengan kalimat dzikir. Sebaliknya, ia dikenal senang mencela, mengumpat, dan mengajak orang lain untuk bermaksiat. Pun pendengarannya yang konon lebih senang mendengarkan sesuatu yang dibenci oleh Allah Swt.

Astaghfirullah… tentu kita tidak ingin memiliki nasib yang sama dengan pemuda tersebut. Sungguh kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput. Jika kita tidak membiasakan diri dari sekarang, lalu kapan? Menunda hanya memperbesar kesempatan kita terlambat melakukannya.

Jangan sampai lisan yang kita miliki enggan berdzikir. Lagipula tidak ada kerugian yang kita dapatkan, justru sebaliknya, ketenteraman hati. Semoga kita menjadi salah satu hamba yang terbiasa membasahi lisan kita dengan berdzikir kepada-Nya.

Wahai jiwa-jiwa yang tenang. Kembalilah kamu kepada Rabbmu dalam kondisi ridho dan diridhoi. Maka masuklah kamu dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kamu dalam surga-Ku. (QS. Al Fajr [89]: 27-30)

 

oleh: An Nisaa Gettar

Leave a Reply