Menjauhi Nikmat Dunia




Allah Swt menciptakan dunia ini lengkap dengan segala sisi keindahannya. Lalu, kita pun tercipta di sini untuk menghuninya, mendapat karunia berupa wujud fisik, pikiran, akal, dan jiwa. Kita pun senantiasa memperoleh nikmat sehat, rezeki, keluarga, teman, dan banyak hal lainnya yang tak terhitung.

Tak heran jika di antara kita ada yang terhanyut di dalamnya, berambisi mencapai target-target yang menyifatinya (keinginan duniawi), dan lupa hakikat mengapa ia diciptakan. Tidak jarang kita terjebak di tengah-tengah kenikmatan dunia yang kita peroleh, membuat kita menjadi hamba yang lalai dan kurang bersyukur. Astaghfirullah, tentunya bukan kondisi seperti inilah jika kita ingin dicintai Allah swt dan Rasulullah saw.

Mari kita ingat kembali kisah salah satu sahabat Rasulluah saw yang dikenal karena kezuhudan dan ketaatannya. Seseorang yang begitu pandai menjauhi nikmat dunia. Ya, dia adalah seorang sahabat bernama Abu Dzar.




Dia adalah sosok sahabat yang mampu menikmati hidup meski tanpa bergelimang harta. Abu Dzar adalah seseorang yang selalu berusaha ingin hidup bersahaja. Ia juga dikisahkan sering mengingatkan orang-orang yang berusaha meninggikan bangunan tempat tinggalnya, serta memperbanyak ternak kambing dan untanya. Sahabat nabi ini juga tidak berlama-lama bersama dengan sahabatnya yang memangku jabatan di pemerintahan. Ia adalah seseorang yang memegang prinsip demikian hingga akhir kehidupannya di dunia.

Pernah suatu ketika Abu Dzar mendatangi sekelompok masyarakat Quraisy yang sedang membangun sebuah majelis di dekat masjid di Madinah. Di depan mereka, ia berkata, “Berilah kabar gembira bagi orang-orang yang menyimpan kelebihan hartanya, dengan ancaman azab Allah berupa dihimpit batu yang sangat panas karena batu tersebut dibakar di atas api. Dan batu itu pun diletakkan di dadanya sehingga sampai tenggelam padanya. Dan batu panas itu diletakkan  di tulang pundaknya, sehingga keluar di dadanya. Demikian terus sehingga batu panas itu naik turun antara dada dan tulang pundaknya.”

Para Quraisy tersebut hanya terdiam dan menundukkan kepala. Mereka juga tampaknya tidak suka dengan ucapan Abu Dzar. Kemudian Abu Dzar pun pergi dan menyendiri sambil berdzikir. Namun, seseorang menyusulnya, mengucap salam, dan berkata, “Aku melihat mereka tidak suka dengan apa yang engkau ucapkan.”

“Mereka adalah orang-orang yang tidak mengerti agama. Mereka hanya mengumpulkan harta dunia beserta isinya. Mereka senang berlebih-lebihan. Jika aku mempunyai emas sebesar Gunung Uhud, semua akan kusedekahkan hingga hanya tersisa untuk keperluanku saja.”

Demikian kehidupan yang dijalani oleh seorang sahabat nabi Abu Dzar. Betapa ia mampu menjauhi godaan nikmat dunia. Mungkin itu tampak berat untuk kita bisa menjalani prinsip hidup sebagaimana Abu Dzar. Namun setidaknya kita bisa selalu berdoa agar tidak menjadi hamba yang dilalaikan karena nikmat dunia, menjadi hamba yang selalu bersyukur, serta menjauhkan diri dari sifat cinta dunia. Juga penting untuk selalu meletakkan usaha terbaik agar setiap langkah yang kita buat memperoleh ridha-Nya.

 

oleh: An Nisaa Gettar

Leave a Reply