Dalam kisah penghianatan delegasi Adhal dan Qarah pada tahun ke 3 Hijriyah, tersebutlah seorang sahabat yang syahid dalam pertempuran tersebut, yaitu ‘Ashim bin Tsabit bin Abu Aqlah. Ia merupakan salah satu orang shalih yang doanya telah dikabulkan oleh Allah swt.

Delegasi tersebut berkata kepada Nabi Muhammad, “Ya Rasulullah, sesungguhnya di kampung kami ada orang mukmin dan ada orang muslim, maka kami meminta kepada engkau untuk mengirim beberapa orang dari para sahabatmu untuk mengajarkan kepada kami tentang agama, memberikan pelajaran tentang Al Qur’an dan mengajarkan tentang syariat-syariat Islam.” Kemudian, Rasulullah pun mengutus enam orang sahabatnya untuk pergi bersama mereka.




Saat tiba di Al-Marji’, yaitu sebuah wilayah milik Hudzail di pinggiran Hijaz, para delegasi tersebut berkhianat dan ingin membunuh para sahabat. Mereka bahkan meminta bantuan kabilah Hudzail dan berkata, “Demi Allah, kami tidak ingin membunuh kalian, tapi kami ingin kalian mengikuti penduduk Makkah (ikut kafir), jika kalian setuju kami tidak akan membunuh kalian. Itu adalah janji kami.”

Mendengar perkataan penghianat tersebut, ‘Ashim menjawab dengan tegas. “Demi Allah, kami tidak akan mengadakan perjanjian atau kontrak apapun dengan orang musyrik selama-lamanya.”

Perang pun tak bisa dihindari. Di sini enam orang sahabat berperang melawan puluhan pasukan penghianat delegasi Adhal dan Qarah. Ketika melihat situasi yang semakin buruk, ‘Ashim pun berdoa:

“Ya Allah, sesungguhnya aku telah memelihara agama-Mu di awal siang, maka peliharalah jasadku juga di penghujung siang.”

‘Ashim pun syahid pada pertemupuran tersebut. Ia telah berjanji kepada Allah bahwa ia tidak ingin disentuh oleh orang musyrik dan iapun tidak akan pernah menyentuh orang musyrik.

Para musuh akhirnya mempunyai kesempatan untuk memenggal kepala ‘Ashim dan berencana menjualnya ke seorang wanita bernama Salafah binti Sa’ad. Yaitu ibu dari Musafih bin Thalhah, seorang laki-laki Quraisy yang pernah dilukai ‘Ashim pada Perang Uhud. Mereka mendekat jasad ‘Ashim yang sudah tidak bernyawa untuk menjalankan rencana. Namun, Allah swt sungguh mengabulkan doa hamba-Nya yang shalih dan mengirim salah satu tentara-Nya untuk menjaga, melindungi, dan memelihara tubuh ‘Ashim.

Sekawanan lebah mengerumuni jasad ‘Ashim sehingga menghalangi rencana buruk para penghianat tadi. Mereka berkata, “Biarkanlah jasad itu sampai sore nanti, lebah-lebah itu pasti akan pergi, setelah itu barulah kita datang lagi untuk memenggal kepalanya.”

Namun, saat sore hari mereka kembali, Allah swt kembali mengirim tentara-Nya berupa angin, yang kemudian membawa terbang tubuh ‘Ashim ke suatu tempat yang tidak diketahui siapapun kecuali Allah.

Sungguh Allah benar-benar menepati janji-Nya dengan mengabulkan doa seorang hamba yang shalih. Dia telah memelihara tubuh ‘Ashim di saat siang mulai hilang, karena hamba-Nya tersebut telah memelihara agama-Nya di saat siang mulai terang.

Mendengar kisah tersebut, Umar bin Khattab sampai berkata:

“Allah pasti memelihara hambaNya yang mukmin. Ia telah berjanjia untuk tidak ingin disentuh oleh orang musyrik dan iapun tidak akan pernah menyentuh orang musyrik selama hidupnya, maka Allah memeliharanya dari sentuhan orang musyrik setelah dia meninggal sebagaimana dia tidak mau disentuh dan menyentuh orang musyrik dalam hidupnya.”

Allahua’lam bishawab

Oleh: An Nisaa Gettar