Masa muda sebagai masa yang dinamis dan produktif adalah salah satu masa yang akan dipertanyakan oleh Allah Swt di hari akhir. Sebagaimana Rasulullah saw mengatakannya di sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Baihaqi, “Tidaklah akan bergeser kaki seseorang pada hari kiamat sehingga dipertanyakan kepadanya empat perkara…” yang di antaranya adalah “…tentang masa mudanya untuk apa dipergunakan…”

Perempuan memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam. Karenanya penjagaannya harus diupayakan sebaik mungkin. Wanita adalah separuh masyarakat dan memiliki hak yang sama atas bagaimana mereka harus dilindungi dari hal-hal negatif.

Kita tidak boleh meremehkan pembicaraan soal perempuan, termasuk para remaja putri. Sebab, sebuah tatanan masyarakat tidak akan membaik kecuali apabila kaum perempuannya tergolong baik. Keadaan apapun tidak akan membaik tanpa dibarengi membaiknya keadaan kaum perempuan. Kebaikan kaum hawa tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan berimbas pada kebaikan suaminya apabila telah menikah, serta pada anak-anaknya jika mereka telah menjadi ibu.




Seorang ibu yang shalihah adalah mereka yang akan melahirkan anak-anak shalih yang kelak menjadi kekayaan insani bagi agama dan sebuah bangsa. Karena itu, meremehkan pembinaan remaja putri dan membiarkan pemikiran, perasaan, tradisi, dan adat istiadat mereka diracuni, sama saja kita membiarkan mereka tidak tumbuh dan berkembang dengan baik.

Islam memuliakan wanita, baik kedudukannya sebagai anak, istri, maupun ibu. Islam pun memberikan taklif dan tanggung jawab kepada perempuan sama halnya kepada laki-laki.

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, karena sebagian kamu adalah keturunan sebagian yang lain.” (QS. Ali Imran [3]: 195)

Allah Swt tidak pernah menyia-nyiakan amal seseorang di antara kita, baik laki-laki maupun perempuan. Sebab laki-laki berasal dari perempuan, juga sebaliknya. Kaum adam dan hawa bukanlah jenis manusia yang bermusuhan satu sama lain. Sebaliknya, justru melengkapi satu sama lain. Satu pihak menjadi bagian dari pihak lainnya.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya.” (QS. Ar Rum [30]: 21)

Semua ini menjadi alasan yang kuat bahwa pengarahan yang Islami sangatlah penting. Seorang anak perempuan adalah sang putri dalam sebuah keluarga. Mereka harus tumbuh dengan baik sejak kecil, memperoleh pendidikan Islami yang memadai, dibiasakan dengan kebiasaan yang positif, menjalani hari-hari dengan ketaatan kepada Allah Swt, ditanamkan kecintaannya pada kebaikan dan kebenciannya pada keburukan, dikenalkan mana yang halal dan mana yang haram, serta mana yang haq dan mana yang batil. Mereka adalah amanah yang harus diajari mendirikan shalat sejak usia tujuh tahun dan dipukul bila meninggalkannya pada usia sepuluh tahun.

Ayah, ibu, dan saudara laki-laki harus meluangkan waktu untuk menjaga sang putri agar mereka tumbuh dan berkembang menjadi pribadi luar biasa yang bisa mengemban tugas dan kewajibannya dengan penuh tanggung jawab. Tentunya hal seperti ini adalah kewajiba setiap keluarga.

Allahua’lam bi shawwab…

 

oleh: An Nisaa Gettar

(Ringkasan ceramah Syaikh Al Qaradhawi)