Kasih sayang dan persaudaraan, saling memahami dan menyatu, serta saling menanggung dan membantu merupakan pengertian cinta yang hakiki. Cinta—dengan pengertian seperti itu—dapat menjadi bandul yang melahirkan keistimewaan, kesenangan, kerinduan, dan perjuangan. Dengan demikian, cinta bisa mengantarkan seseorang menemukan eksistensinya sebagai makhluk bernurani.

Berbeda dengan hewan yang ikatan antara mereka lebih dibentuk oleh insting. Karena itu, tidak mengherankan jika dalam dunia hewan tidak ada kasih sayang, saling membantu, dan menanggung dengan penuh kesadaran, kecuali karena insting induk terhadap anaknya.

Sebagai sebuah anugerah kepada manusia, cinta dapat tumbuh-berkembang apabila seseorang benar-benar memeliharanya dengan berusaha menumbuhkan kasih sayang kepada sesama. Semakin kuat usaha yang dilakukan, semakin kuat juga kedekatan dan cinta pada sanubari orang tersebut. Ia bahkan rela berkorban dan berjuang demi cintanya.




Namun, cinta juga bisa menyusut-berkurang. Hal ini dapat terjadi apabila seseorang terlampau lama membiarkan sanubari—sebagai sumber cinta—mengeras dan membeku. Di saat orang-orang di sekitarnya membutuhkan sentuhan dan kasih sayangnya, ia acuh dan membiarkannya berlalu begitu saja. Di saat orang lain berada dalam kesusahan, ia tidak mengulurkan tangan membantunya. Lama kelamaan hatinya menjadi keras. Sehingga, ia tidak sensitive terhadap permasalahan di sekitarnya. Inilah akibat tidak terpeliharanya cinta dengan baik.

Dengan fungsi di atas, cinta mempunyai peran yang besar dalam kemanusiaan. Banyak sekali efek positif yang diperoleh dari cinta. Oleh sebab itu, tidak salah bila Nabi dengan tegas menjelaskan bahwa beliau akan memberikan jaminan kepada orang-orang yang mempunyai cinta dan kasih kepada sesama maupun kepada yang lain.

1 2 3