Zaid bin Haritsah adalah salah satu sahabat nabi yang namanya diabadikan dalam Al Qur’an (surat Al Ahzab [33] : 37) berkenaan dengan hukum syariat yang turun karena kisahnya. Dia juga merupakan salah satupemimpin yang dipilih Rasulullah ketika akan menghadapi pasukan Romawi di medan Muktah.

Rasulullah berkata, “Kalian semua berada di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah. Seandainya ia tewas, pimpinan akan diambil alih oleh Ja’far bin Abi Thalib. Seandainya Ja’far tewas pula, maka komando hendaklah dipegang oleh Abdullah bin Rawahah.”

Zaid bin Haritsah merupakan putra dari pasangan Haritsah dan Su’da. Saat kecil, suatu hari Zaid digendong ibunya, Su’da, bergabung dalam sebuah rombongan kafilah melakukan perjalanan menuju kampung Bani Ma’an untuk berziarah. Ketika itu Haritsah tidak bisa menemani keduanya karena harus menyelesaikan urusan. Meski hatinya mendadak begitu berat, Haritsah yang telah menyiapkan perbekalan untuk anak dan istrinya pun membiarkan keduanya pergi.




Bersama keluarganya di kampung Bani Ma’an, Su’da tinggal selama beberapa hari. Namun, ujian datang di suatu hari ketika sekelompok perampok Badui menjarah rumah para warga di sana. Semua harta terkuras habis dan beberapa penduduk juga diambil menjadi tawanan. Termasuk si kecil Zaid bin Haritsah.

Di kemudian hari, Haritsah menjumpai istrinya pulang hanya seorang diri. Mengetahui kabar putra tercintanya diculik dia pun jatuh tak sadarkan diri. Haritsah kemudian menghabiskan hari-harinya dengan mencari sang putra tercinta ke banyak tempat.

Di sudut lain, tepatnya Pasar Ukadz, si kecil Zaid yang dijual oleh para penculiknya di pasar budak dibeli oleh seseorang bernama Hakim bin Hizam. Ia tidak lain merupakan keponakan dari Khadijah istri Nabi Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Hakim pun menyerahkan Zaid kepada bibinya tersebut. Dari Khadijah, Zaid diberikan kepada Nabi Muhammad saw untuk menjadi pelayannya.

Ketika itu Nabi Muhammad saw belum menjadi seorang rasul. Beliau begitu senang dan segera memerdekakan Zaid. Rasulullah telah menganggapnya sebagai anak sendiri dan mendidiknya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

Pada sebuah musim haji, sekelompok orang dari desa Haritsah tinggal berjumpa dengan Zaid di Mekah. Mereka menyampaikan bahwa ia sangat dirindukan oleh ayah dan ibunya. Zaid pun berkata bahwa ia pun merasakan hal yang sama dan meminta tolong kepada mereka bahwa di Mekah sini ia tinggal dengan seseorang yang sangat mulia.

Kabar keberadaan Zaid segera diketahui oleh ayahnya, Haritsah. Ia pun segera mengatur perjalanan ke Mekah untuk menemui Nabi Muhammad Al Amin yang diketahui telah merawat putranya. Tentu saja ia juga ke sana untuk menjemput Zaid-nya yang tercinta.

Kepada Rasulullah saw, Haritsah berkata bahwa ia datang untuk meminta putranya. Ia pun memuji Nabi Muhammad saw sebagai sosok yang kerap membebaskan orang yang tertindas dan selalu memberikan makanan untuk para tawanan. Rasulullah yang meskipun sangat menyayangi Zaid, dengan sikap penuh bijak mempersilakan Zaid untuk memberikan keputusan.

Zaid yang juga sangat menyayangi Rasulullah menjawab tanpa ragu. “Tidak ada orang lain yang aku pilih kecuali engkau. Engkaulah ayahku. Dan engkaulah pamanku.”

Rasulullah sangat terharu mendengar jawaban Zaid. Ketika itu ia membawa Zaid ke pekarangan Ka’bah, lalu berseru bahwa mulai saat itu Zaid bin Haritsah adalah putranya yang akan menjadi ahli warisnya.

 

oleh: An Nisaa Gettar