Diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar rumah, lalu beliau melihat bangunan yang tinggi (qubbah). Beliau lalu bertanya: “Apa ini?”

Para sahabat menjawab, “Ini adalah bangunan milik si fulan, seorang laki-laki Anshar.”

Anas berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diam dan hanya memendam dalam hatinya, hingga ketika pemilik bangunan itu datang dan memberi salam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di depan orang-orang, beliau berpaling darinya. Beliau melakukan hal itu berulang-ulang hingga laki-laki itu paham bahwa Rasulullah sedang marah dan menghindar darinya. Maka laki-laki itu pun mengeluh kepada para sahabat Rasulullah.”




Laki-laki itu berkata, “Demi Allah, aku telah mengingkari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Para sahabat berkata, “Rasulullah keluar dan melihat bangunan milikmu.”

Anas berkata, “Lalu laki-laki itu pulang dan menghancurkan rumahnya hingga rata dengan tanah.”

Ketika suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar dan melihat bangunan tersebut telah hilang, beliau pun bertanya: “Apa yang terjadi dengan bangunan tersebut?”

Para sahabat menjawab, “Pemilik banguan itu pernah mengeluh kepada kami tentang berpalingnya baginda kepadanya, maka kami pun mengabarkan kepadanya. Lalu ia pulang dan menghancurkan rumah miliknya.”

Rasulullah bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya setiap bangunan itu akan membawa bencana bagi pemiliknya, kecuali yang tidak, kecuali yang tidak (maksudnya sesuatu yang memang dibutuhkan).” (HR Abu Daud)

Qubbah, maksudnya adalah bangunan yang tinggi. Sedangkan “Apa ini?” adalah bentuk pertanyaan pengingkaran. Dalam arti kata, bangunan apa ini? Siapa yang membangunnya? “Memendam dalam hatinya”, maksudnya menyembunyikannya amarah di dalam hati karena marah terhadap perbuatan pelakunya.

Kecuali yang tidak…”, sengaja diulang untuk memberikan penekanan. Maksudnya, kecuali sesuatu yang memang dibutuhkan. Begitulah penafsiran dari salah seorang perawi (‘Awn al-Ma’bud, jilid XIV). Al-Mundziri berkata dalam al-Targhib wa al-Tarhib, “Maksudnya adalah kecuali yang seharusnya menutupi dari panas, dingin, binatang buas, dan sebagainya. Wallahu a’lam.”

Ada yang berpendapat, hadits ini bermakna setiap bangunan yang di dirikan seseorang bisa menjadi “wabal” (bencana) bagi pemiliknya. Maksudnya, azab di akhirat. Asal kata “wabal” bermakna “al-tsaql al makruh”(beban yang tidak disukai).

Bangunan dimaksud adalah yang didirikan untuk membanggakan diri dan bermewah-mewahan diluar batas kebutuhan. Jadi, bukan bangunan masjid, sekolah, dan lembaga-lembaga sosial yang berorientasi akhirat.  Hal yang sama juga berlaku begi seseorang dalam hal sandang, pangan dan papan.

Hal ini juga tidak ada salahnya kita jadikan acuan untuk membangun rumah, tempat tinggal kita, tempat berkumpul bersama keluarga, melakukan aktivitas dan juga tempat kita beribadah khususnya untuk kaum hawa. Rumah juga merupakan tempat seluruh anggota keluarga berdiam dan melakukan aktivitas yang menjadi rutinitas keseharian. Ada juga definisi rumah merupakan jantung kehidupan yang semestinya dapat menjadi sumber kedamaian, sumber inspirasi, dan sumber energi bagi pemiliknya.

Ustad Muhamad Ghozali, MA, menjelaskan, meskipun Rasulullah SAW sendiri tidak memberikan contoh dalam mendesain rumah, tapi dari sunah yang ada, hendaknya hal itu dijadikan acuan atau pegangan kita sebagai umat Muslim dalam membuat dan mendesain sebuah rumah. Di antara hal yang harus diperhatikan adalah,

Pertama, membangun atau mencari rumah yang dekat dengan masjid agar mempermudah kita untuk beribadah dan menunaikan salat berjamaah di masjid. Ya walaupun yang lebih utama adalah jauh dari Masjid, karena setiap langkahnya akan dihitung pahala. Tetapi, karena mengingat lemahnya iman pada umat Islam dan pengaruh lingkungan yang banyak sekali kemaksiatan pada zaman sekarang, dekat dengan Masjid lebih utama untuk menjaga diri dan keimanan seseorang. Wallahu a’lam bisshawa

Kedua, membangun atau mencari rumah yang jauh dari lingkungan maksiat atau tetangga yang buruk. Hal ini sesuai dengan  kisah yang panjang, yaitu kisah perjalanan taubatnya seseorang yang telah membunuh 100 orang, padanya disebutkan,

اِنْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا , فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُوْنَ اللهَ, فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ, فَإِنَّهَا أَرْضُ سُوْءٍ

“Pergilah Engkau ke sebuah negeri seperti ini dan seperti ini (yang disifatkan padanya negeri tersebut), karena sesungguhnya di dalamnya terdapat kaum yang beribadah kepada Allah Ta’ala, beribadahlah bersama mereka dan jangan kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang jelek (banyak kemaksiatannya).” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

 

oleh : Chairunnnisa Dhiee (dikutip dari berbagai sumber)