Perkembangan Islam di Madinah telah mengalami kemajuan yang signifikan. Namun, Rasulullah saw masih sangat mengingat tempatnya dilahirkan dan menggembala kambing. Terlebih lagi, saat turunnya perintah untuk melakukan ibadah haji di Makkah, tempat beliau dibesarkan dan diusir oleh masyarakat Arab.

Setelah enam tahun di Madinah sejak hijrah, Rasulullah bermaksud mengajak kaum muslimin untuk melaksanakan perintah haji kecil (umrah) dengan mengunjungi Ka’bah yang menjadi tempat patung-patung berhala bersandar. Sayangnya, keberangkatan baginda Rasul ke Baitullah ternyata tidak mendapat respon baik dari penduduk Mekkah.

Penduduk Mekkah berupaya menghalangi misi Rasulullah dengan berbagai cara. Kalangan Mekkah bersiaga terhadap kekuatan militer kaum muslimin yang semakin berkembang. Jadilah, berbagai upaya dilakukan untuk menggagalkan misi Rasulullah dalam menyebarkan agama Islam.




Oleh karena tak ingin ada pertumpahan darah di tanah Mekkah, Rasulullah akhirnya tetap tinggal di Hudaibiyah. Beliau tak ingin kembali ke Madinah dengan kehampaan. Lalu Rasulullah mengutus Usman bin Affan sebagai delegasi yang mengabarkan bahwa Rasulullah saw datang bukan untuk berperang melainkan untuk melaksanakan ibadah umrah sebagai rasa syukur kepada Allah swt.

Sebagian pemuka Mekkah memahami hal itu dan menginginkan sebuah kesepakatan politik yang menguntungkan. Perundingan pun terjadi. Perjanjian itu kemudian populer dengan sebutan perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian ini berisikan syarat dan kompensasi yang harus diterima kaum muslimin sekalipun pahit. Secara garis besar, isi perjanjian tersebut berisi,

Dengan nama Tuhan. Ini perjanjian antara Muhammad saw dan Suhail bin Amru, perwakilan Quraisy. Tidak ada peperangan dalam jangka waktu sepuluh tahun. Siapa pun yang ingin mengikuti Muhammad saw, diperbolehkan secara bebas. Dan siapa pun yang ingin mengikuti Quraisy, diperbolehkan secara bebas. Seorang pemuda yang masih berayah atau berpenjaga, jika mengikuti Muhammad saw, tanpa izin, akan dikembalikan lagi ke ayahnya dan penjaganya. Bila seseorang mengikuti Quraisy, ia tidak akan dikembalikan. Tahun depan mereka dapat masuk ke Mekkah untuk melakukan tawaf disana selama tiga hari. Selama tiga hari itu penduduk Quraisy akan mundur ke bukit-bukit. Mereka haruslah tidak bersenjata saat memasuki Mekkah.”

1 2