Sejarah Arsitektur Masjid di Berbagai Wilayah Australia (bag. 1)




Sejarah arsitektur masjid di Australia diawali dari berdirinya masjid–atau lebih tepat disebut surau mengingat bentuknya yang sangat sederhana–yang dibangun oleh orang-orang Afghanistan pada sekitar abad 19 atau awal abad 20 (gambar di atas). ‘Masjid Afghan’ tersebut kabarnya dibangun oleh para penunggang unta dan pedagang dari Afghanistan. Masih menjadi perbincangan yang menarik di kalangan para ahli, apakah ‘Masjid Afghan’ tersebut merupakan cikal bakar arsitektur masjid di Australia saat ini.

Australia sendiri memang tengah mencari tahu sejarah arsitektur masjid-masjid yang ada di sana. Masjid di Australia bukanlah peninggalan penguasa ataupun sebuah bangunan nasional yang menjadi simbol tertentu. Masjid di benua tersebut merupakan manifestasi dari masyarakat lokal sebagai bentuk fasilitas ibadah. Kebanyakan dari masjid tersebut memiliki bentuk yang sederhana dan terletak di area sub-urban. Meskipun tidak memiliki ‘masa keemasan’, dengan karakteristik tersebut masjid-masjid di Australia justru lebih mencerminkan keterbukaan, multikulturalisme, dan inkulsifitas.




Masjid merupakan bagian dari masyarakat sub-urban Australia. Tempat beribadah tersebut memiliki peran yang krusial dalam mengatasi kekhawatiran akan Islam dan dalam mendukung nilai-nilai keislaman. Tidak bisa dielakkan bahwa hingga saat ini, Islam masih menjadi subjek yang rutin dibincangkan oleh publik di Australia.

Bentuk lokal

Setiap kali membahas tentang sejarah arsitektur suatu bangunan, kita akan selalu menemukan bentuk lokal yang berbeda satu sama lain. Tidak terkecuali dengan arsitektur masjid di Australia. Karena hal ini terkait dengan sistem konstruksi dan sumber material bangunannya.

Sebagian besar masjid sub-urban popular di Australia, yang saat ini berjumlah 340 masjid (sekitar 170 masjid di antaranya berada di New South Wales), dibangun setelah akhir tahun 1970-an. Mereka memiliki karakteristik yang berbeda. Ada yang menggambarkan budaya masyarakat kota, tapi sebagian besar lainnya merupakan bangunan sederhana, sehingga tampak tidak ada maksud untuk menonjolkan suatu ketenaran arsitektur.

Muslim datang pertama ke Australia sebelum tahun 1720-an melalui pedagang Macassan (ya, Macassan adalah sebutan untuk orang-orang  Makassar dari Sulawesi, Indonesia). Mereka menyebut wilayah pantai barat laut dengan Marege dan pengaruh mereka pun dapat dilihat melalui seni, bahasa, dan objek lainnya yang ada di sana. Namun, para Macassan tidak membangun masjid di sana. Menurut ahli sejarah Regina Ganter, tidak ada jejak suara adzan yang terlacak di sana. Meskipun masih ada argumentasi bahwa getaran suara adzan dalam bahasa setempat pernah terdengar saat Macassan berkunjung.

(Foto: Masjid di Marree (1884)/State Library of South Australia/The Guardian)

(Foto: Masjid di Marree (1884)/State Library of South Australia/The Guardian)

Masjid yang diketahui pertama kali dibangun di sana berada di Maree, Australia Selatan, dan sepertinya dibangun sekitar tahun 1960-an. Gambaran tentang Masjid Quba di Madinah saat dibangun pertama kali ditemukan pada masjid ini. Mulai dari atap jeraminya, pohon palm, dinding tanah, arahnya yang mengarah ke Mekah, tempat wudhu, dan mimbar yang kecil. Tidak ada kubah, minaret (menara masjid), mihrab, atau muqarnas. Apa yang bisa kita lihat pada masjid di Maree saat ini adalah konstruksi tahun 2003. Dikabarkan bahwa dua masjid asli di Maree telah dibongkar oleh pihak kustodian setelah diketahui tidak ada yang mengelola. Memang sangat sedikit masjid di wilayah pedalaman yang masih digunakan hingga saat ini.

bersambung …

oleh: An Nisaa Gettar

(Sumber: The Guardian)

 

Leave a Reply