Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata,” Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama rasul.’ Kecelakaan besarlah bagiku. Kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si Fulan teman akrab (ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Quran ketika Al-Quran itu telah datang kepadaku. Dan setan itu tidaklah mau menolong manusia.” (QS. Al-Furqan :27-29)

Saat kita bersedih karena ditinggal orang-orang yang kita cintai adalah sesuatu hal yang alamiah. Demikian pula yang dirasakan oleh junjungan kita, baginda Rasulullah saw. Beliau mengalami kesedihan yang begitu luar biasa, saat mendapati pamannya Abu Thalib, terbaring kaku di pembaringan. Detik-detik sakaratul maut terasa akan menghampiri sang paman.

Seperti kita ketahui, Abu Thalib dianggap layaknya seorang ayah sendiri oleh Rasulullah saw. Sebab, sang paman yang selalu merawat dan melindungi beliau dari berbagai ancaman, marabahaya, dan gangguan orang-orang yang mengusik dakwah Rasulullah saw.




Namun, maut tidak akan menoleransi waktu “berkelana” manusia di dunia ini. Jika sudah saatnya tiba, waktu itu pun habis. Dan kita harus meninggalkan dunia dan mempertanggungjawabkan segala amal dan perbuatan yang telah kita lakukan selama kesempatan hidup di dunia.

Mengetahui Abu Thalib berada diambang pintu kematian, Rasulullah saw berusaha menolongnya. Ya, memberinya pertolongan, sebab sang paman masih enggan mengikuti keyakinan keponakannya tersebut. Abu Thalib masih mengikuti ajaran Jahiliah.

Menjelang Abu Thalib wafat, Rasulullah saw datang menghampiri, berharap sang paman mengucapkan kalimat tauhid. Beliau menuntun dan membimbing Abu Thalib dengan penuh kasih sayang agar sekiranya sang paman mau mengucapkan dua kalimat syahadat. “Wahai pamanku, katakanlah laa ilaaha illa Allah, sebuah kalimat yang aku akan ber-hujjah untukmu dengannya di sisi Allah.”

Namun sayangnya, lagi-lagi Abu Thalib masih enggan mengucapkannya karena pengaruh ajakan teman-temannya. Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah menimpali, “Apakah engkau akan meninggalkan agama Abdul Muththalib?”

1 2