Mencecap Manisnya Iman




Manisnya iman, setiap muslim pasti ingin merasakannya. Dengan iman yang senantiasa menguat seorang muslim tidak akan kehilangan arah. Perasaan yang selalu muncul di dalam sanubarinya adalah keyakinan, bukan sebaliknya, keragu-raguan. Iman yang terpupuk dengan baik akan mengantarkan seorang muslim untuk selalu mendekat kepada Allah Swt dan konsisten dalam menjalankan sunnah yang diajarkan oleh Rasul-Nya.

Iman yang tumbuh dalam diri seorang muslim sesungguhnya tidak terlepas dari rasa cinta yang ada di dalam hatinya. Sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda melalui hadits berikut, “Tidaklah beriman seorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri.” (HR Bukhari)




Pada hadits tersebut Rasulullah Saw menunjukkan keterkaitan antara iman dan cinta. Beliau mengatakan bahwa orang yang beriman adalah mereka yang mampu mencintai orang lain atau saudaranya sebagaimana mereka mencintai dirinya sendiri. Sebagai manusia sudah fitrahnya kita mencintai diri sendiri bukan? Karena itu kita pun setiap hari bekerja agar kita bisa memenuhi kebutuhan diri sendiri. Kita makan, minum, berolahraga, menghibur diri, juga beribadah karena kita menyayangi diri kita. Nabi Muhammad Saw mengatakan, jika kita bisa melakukan hal yang sama kepada orang lain, mencintai mereka, sebagaimana kita mencintai diri kita, maka hal tersebut adalah ciri seseorang yang beriman.

Iman sungguh dapat kita rasakan manisnya. Merasakan manisnya iman merujuk pada apa yang bisa kita lakukan dan kita rasakan jika kita telah menjadi hamba yang beriman. Keimanan pun kembali dapat dicerminkan dari sikap kita dalam mencintai. Mencintai di sini pun memiliki derajat yang lebih tinggi, yaitu mencintai Allah Swt dan utusan-Nya. Hal ini disebutkan dalam sebuah hadits.

Abdul Wahhab Ats Tsaqafi berkata, telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman: Dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya. Jika ia mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah. Dan dia benci kembali kepada kekufuran seperti dia benci bila dilempar ke neraka.” (HR Bukhari)

Rasulullah Saw menyampaikan ada tiga ciri seseorang yang telah mencecap manisnya iman. Pertama, sesungguhnya orang yang telah mencecap manisnya iman akan senantiasa mencintai Allah Swt dan Rasulullah Saw di atas segalanya. Kedua, ketika ia mencintai seseorang, maka ia melakukannya karena Allah. Ketiga, jika seseorang telah mencecap manisnya iman, ia tidak akan senang atau benci kembali berkubang di lembah kekufuran. Kebenciannya ini sama seperti ia membenci jika dilempar ke neraka.

Semoga kita senantiasa memiliki kesempatan dan tidak lelah dalam beribadah hingga kita bisa menjadi bagian dari mereka yang telah merasakan manisnya iman. Allahua’alam bi shawwab.

Oleh: Malaika Shadleen

 

 

Leave a Reply