Bermodal sarung dari masjid Istiqlal, aku mengikuti khutbah jumat bersama jamaah lain layaknya lelaki muslim sebenarnnya. Jangan tanya aku berwudhu atau tidak, saat itu aku tak mengerti wudhu, yang ada aku hanya sekedar mencuci muka, tangan dan kaki untuk sekedar menyegarkan diri. Andi dan si ncup tertawa melihat tingkah konyol ku itu, mungkin mereka merasa lucu dan menganggap aku sedikit gila. Aku tak terlalu peduli mereka. Yang pasti aku ingin tahu apa itu shalat jumat.

Sampai pada akhirnya waktu shalat jumat pun tiba, aku menyelipkan tubuh ku yang saat itu masih kecil untuk bisa masuk ke barisan depan agar bisa memperhatikan gerakan shalat imam. Ini bukan kali pertama aku memperhatikan gerakan shalat, kalian pasti tahu aku sudah sering memperhatikan si mbah shalat. Dan inilah perdana kau shalat sebagai seorang bocah kristiani. Dan akhirnya aku shalat. Ya, aku shalat jumat.

Aku menyelesaikan shalat jumat dengan begitu baik layaknya seorang lelaki muslim. Kalian tahu? Ada perasaan yang begitu hangat kurasa dalam batin ku. Perasaan yang gak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku begitu tenang setelah shalat jumat. Walaupun hanya gerakan tanpa bacaan, tapi begitu menikmati shalat itu. Sangat menikmati. Ada apa ini?




Selesai shalat aku memutuskan untuk tidur di lantai 4 masjid Istiqlal. Aku sangat mengagumi masjid Istiqlal yang begitu megah nya berdiri di tengah jantung kota Jakarta. Kulihat Andi dan si Ncup juga sudah tertidur pulas tak jauh dari tempat ku berbaring. Tak lama aku pun tertidur entah berapa lama, yang pasti kami terbangun saat adzan dan kulihat suasana diluar sudah mulai gelap. Waktunya shalat magrib kata Andi. Boro-boro shalat magrib, kita malah memutuskan untuk pulang mengingat Bekasi yang cukup jauh, dan pasti para orang tua sudah mencari ketiga anak ini.

Lagi, waktu berlalu begitu cepatnya. Aku melewati masa SMP dengan biasa saja, begitu juga dengan masa SMA ku yang kulalui dengan tidak begitu baik. Tawuran, minum-minuman, bolos sekolah yang entah sudah berapa kali, tak terhitung mungkin. Hubungan ku dengan papa yang semakin berjarak. Kebiasaan buruk beliau tidak ada perubahan sama sekali, yang ada semakin menjadi karena tingkah laku ku yang memang urak-urakkan. Perlakuan papa yang sudah memang kasar sejak aku kecil, menempah pribadi ku menjadi sosok anak muda yang jauh dari kata baik, apalagi agamis. Berteman akrab dengan preman-preman pasar dan anak-anak jalanan membuat ku mengisi masa SMA sebagai anak muda yang kasar, keras kepala, pemberontak, pembangkang, dan tentu jauh dari Tuhan.

1 2 3