Don’t judge a book by its cover. Pepatah tersebut muncul karena banyak hal yang terjadi adalah sebaliknya. Buku seringkali dinilai melalui sampul yang menjadi wajah dari isi di dalamnya. Seperti kita manusia. Kita seringkali menarik kesimpulan berdasarkan pada apa yang kita lihat dan kita alami–meski secara dangkal dan hanya tampilan luar saja. Karena itu penting untuk kita pahami bahwa sebagai individu, menyukainya atau tidak, kita terlahir sebagai seorang ambasador. Tepatnya, seorang ambasador kebaikan.

Setiap kali kita berinteraksi dengan seseorang, baik secara tatap muka maupun tidak, kita secara sadar atau tidak sedang mengkomunikasikan apa yang kita yakini dan apa yang kita perjuangkan. Tampilan yang kita munculkan akan mewakili keluarga kita, keyakinan kita, pendidikan kita, teman-teman kita, guru-guru kita, dan pengalaman-pengalaman yang pernah kita lalui.




Dibandingkan dengan membahas sistem nilai yang abstrak dan tanpa wujud, akan lebih efektif untuk kita bisa merefleksikan apa yang kita yakini melalui bentuk interaksi kita dengan orang lain. Bagaimana kita memperlakukan diri sendiri dan orang lain pada akhirnya akan mendefinisikan siapa kita di mata masyarakat atau bahkan di ruang lingkup yang lebih luas.

Ajaran Islam sangat kental dengan budaya yang mendefinisikan dengan jelas: mana adab yang baik dan mana adab yang buruk. Islam berbicara tentang perilaku, etika, dan moral. Ajaran-ajaran ini diturunkan melalui sosok teladan yang menjadi contoh terbaik dalam Islam, yaitu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.” (QS Al Ahzab [33]: 21)

Jadi, mari kita awali pemahaman kita akan adab yang baik langsung dari sumber utamanya, yaitu Rasulullah Saw. Beliau memperoleh gelar rahmatan lil ‘alamin, yang artinya adalah rahmat bagi seluruh alam. Kata kunci di sini adalah rahmat, yang juga dapat dimaknai sebagai kasih sayang. Muhammad bin Abdullah adalah sosok yang penuh kasih sayang di setiap peran yang beliau miliki: sebagai ayah, suami, anak, tetangga, sahabat, penasihat, hakim, pemimpin, pelayan, penengah, dan bagian dari masyarakat. Rasulullah Saw menampilkan level tertinggi dari adab di segala jenis skenario. Beliau adalah ambasador kebaikan terbaik.

Kunci yang bisa kita ambil dari kesimpulan tersebut adalah perlunya pengakuan dan keyakinan bahwa kita yang hidup saat ini pun akan mengalami situasi sama seperti yang dialami Rasulullah Saw sepanjang hidupnya. Tugas kita adalah mengekstraksi kebijakan-kebijakan yang terkandung dari perilaku beliau sebagai model terbaik yang secara sejarah telah terbukti kesuksesannya. Terdengar mudah bukan?

1 2 3