Mengintip Kepemimpinan Ahmed Aboutaleb di Rotterdam




Jika Inggris memiliki Sadiq Khan sebagai walikota muslim pertama di negaranya, maka Belanda memiliki Ahmed Aboutaleb sebagai walikota muslim pertama di benuanya, Eropa. Aboutaleb menjadi walikota Rotterdam sejak 5 Januari 2009. Ia adalah seorang keturunan Maroko-Belanda yang sebelumnya menjabat sebagai Sekretaris Negara untuk Urusan Sosial dan Karyawan di Kabinet Balkenende IV. Aboutaleb lahir pada 29 Agustus 1961 di Beni Sidel Maroko. Ia dibesarkan sebagai putra dari imam Sunni Berberif di sebuah desa kecil di wilayah Nador, Rif, Maroko. Pada tahun 1967, bersama keluarganya ia pindah ke Belanda.

Ahmed Aboutaleb dipilih oleh pemerintah pusat Belanda untuk menjadi walikota Rotterdam sejak 2009. Pada masa 6 tahun kepemimpinannya sekarang, ia disebut sebagai walikota yang berhasil menjadikan Rotterdam sebagai kota  paling dinamis di Eropa. Seperti kita ketahui, Rotterdam adalah sebuah kota yang dihuni oleh berbagai warga negara dunia, yaitu sebanyak 170 kewarganegaraan. Rotterdam yang memiliki julukan Adik dari Amsterdam kini telah bertransformasi menjadi kota dengan arsitektur yang berani dan moderen–bernafaskan semangat wirausaha dan kaya akan budaya. Harga sewa yang lebih terjangkau (dibandingkan Amsterdam) juga telah menarik para pemuda dan pelajar untuk menghuni Rotterdam. Selain itu, Rotterdam kini menjadi destinasi popular di kalangan turis.




Sebagian besar pengunjung dan pendatang baru tinggal di wilayah utara Sungai Maas. Di sini ada sekitar 200.000 penduduk yang tinggal, termasuk para imigran muslim dari Maroko dan Turki dengan jumlah yang sama banyaknya dengan warga dari Suriname dan Dutch Antilles. Sekitar 16% warga di daerah tersebut hidup sejahtera, jumlah tersebut dua kali lipat dari kota-kota besar di Belanda lainnya.

Ketika tiba di Rotterdam, beberapa warga lokal menampakkan skeptisnya terhadap Ahmed Aboutaleb mengingat ia yang berasal dari Partai Buruh ke depannya harus bekerja dengan partai dari sayap lainnya Leefbaar Rotterdam. Jabatan politiknya sebagai alderman (anggota dewan) di Amsterdam juga memberikan keraguan tersendiri, karena ia dianggap sosok yang hanya banyak bicara dan tanpa aksi.

Namun ternyata tidak butuh waktu lama bagi Aboutaleb untuk memenangkan hati warga Rotterdam. Terlahir di daerah miskin pegunungan di Maroko, dalam waktu singkat ia mudah berbaur dengan generasi pertama dan kedua para imigran di sana. Pada awal menjabat Aboutaleb, ia berkeliling menelusuri jalanan Rotterdam dan mendatangi warga untuk mencari tahu tentang apa yang mereka pikirkan tentang kota yang mereka tinggali ini. Salah satu warga Belanda sekaligus CEO Havenstender, Van den Berk ingat bahwa pernah suatu ketika walikota tersebut datang saat ada kebakaran di dekat tempatnya. “Aboutaleb datang dengan mengenakan jins dan kaus, berbicara dengan warga korban kebakaran,”ujarnya. “Kalau saja ada pemilihan kepala daerah, saya tidak ragu dia akan menang.”

Aboutaleb juga sosok yang mudah untuk menjalin komunikasi dengan para pebisnis internasional, di mana ia banyak menghabiskan waktunya mempromosikan Rotterdam. Dia juga menjalin hubungan baik dengan para walikota dari berbagai negara lain, misalnya dengan walikota Sanghai untuk membahas mengenai keamanan cyber dan walikota New York untuk membahas manajemen air perkotaan. Koneksi internasional yang dijalinnya pun terbayar. Cambridge Innovation Center membuka kantor Eropa pertamanya di Rotterdam. Stasiun kereta api pusat yang dibangun tahun lalu telah memiliki pelayanan kereta cepat menuju bandara internasional di Amsterdam. Berbagai pembangunan, seperti Markthal, dibangun moderen dengan atap berdesain mirip Sistine Chapel.

(Foto: Markthal Food Market/Rotterdam Image Bank/citiscope.org)

(Foto: Markthal Food Market/Rotterdam Image Bank/citiscope.org)

Leave a Reply