Ketahuilah, kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, kalian tidak kesulitan melihatnya, sekiranya kalian mampu untuk tidak keberatan mendirikan shalat sebelum terbit matahari (shalat subuh) dan sebelum terbenamnya (shalat ashar). (HR Muslim)

Salah satu kegembiraan seorang muslim pada hari kiamat adalah jika kita dapat melihat Allah swt. Seperti yang dikatakan dalam Al-Quran, ” Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri . Kepada Rabb-nya mereka melihat.” (QS. Al-Qiyaamah : 22-23)

Ibnu Katsir menerangkan maksudnya, yaitu mereka melihat Allah swt dengan mata kepala mereka sendiri. Menurutnya, kenikmatan yang paling agung dan tinggi ( yang melebihi semua) dari kenikmatan di surga adalah memandang wajah Allah Yang MahaMulia. Inilah tambahan yang paling agung (melebihi) semua (kenikmatan) yang Allah swt berikan kepada para penghuni surga. Mereka berharap mendapat kenikmatan tersebut bukan semata-mata karena amal perbuatan mereka, melainkan karena karunia dan rahmat Allah.




Jika kita istiqamah menjalankan shalat Subuh dan Ashar maka akan dapat melihat Allah bagai melihat bulan purnama di akhirat kelak. Menjaga, berarti selalu menjalankan shalat tersebut secara sempurna dan tepat waktu, tidak menunda-nunda apalagi dengan sengaja dan sadar meninggalkannya.

Dalam hadits disebutkan, dari Jarir ra, dia berkata, “Ketika kami duduk-duduk di sisi Rasulullah SAW di malam hari keempat belas, beliau melihat bulan (purnama), kemudian bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini, tanpa ada sesuatu yang menghalangi penglihatan kaliann. Oleh karena itu, jangan sampai kalian meninggalkan shalat sebelum matahari terbit (Subuh) dan shalat sebelum matahari terbenam (Ashar).” Kemudian beliau membaca, “Dan bertasbihlah sambil memuji Rabbmu sebelum terbit matahari dan terbenamnya (QS Qaaf[50]:39).” (HR Bukhari)

Imam Nawawi mengatakan, artinya kalian akan melihat Allah secara nyata, tidak ada keraguan dalam melihat-Nya, dan tidak pula ada kesulitan padanya. Seperti halnya kalian melihat bulan (purnama) ini secara nyata, tidak ada kesulitan dalam melihatnya. Yang diserupakan di sini adalah cara melihatnya, bukan Allah di serupakan dengan bulan.

Rasulullah saw juga menjelaskan dalam sebuah hadits, bahwa pada saat shalat Subuh dan Ashar para malaikat berkumpul dan menyampaikan kegiatan yang kita lakukan saat para malaikat meninggalkan kita untuk naik ke atas langit.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Malaikat malam dan malaikat siang secara bergantian menjaga kalian, dan mereka berkumpul pada waktu shalat ‘ashar dan shalat subuh, kemudian malaikat yang menjaga kalian di malam hari naik ke langit dan Allah menanyai mereka -sekalipun Dia paling tahu terhadap keadaan mereka- “bagaimana kalian tinggalkan para hamba-Ku?” Para malaikat menjawab, “Kami tinggalkan saat mereka sedang melaksanakan shalat, dan kami datangi mereka juga saat melaksanakan shalat.” (HR. Bukhari)

Shalat Subuh adalah shalat yang paling berat bagi orang munafik. Allah swt juga mengazab umat-umat terdahulu yang membangkang utusan-Nya pada saat Subuh.

Sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka adalah pada waktu Subuh. Bukankan waktu subuh itu sudah dekat? (QS. Huud[11] : 81)

1 2 3