Banyak peristiwa bersejarah terjadi di bulan Ramadhan. Salah satunya adalah pertempuran umat muslim melawan pasukan Mongol di wilayah Ain Jalut, Palestina. Kemunculan bangsa Mongol memang telah diisyaratkan oleh Nabi Muhammad Saw. Beliau menyebutnya dengan Bani Qantura dengan ciri-ciri fisik bermuka lebar dan bermata sipit.

Siapa yang menyangka bangsa nomaden yang primitive tersebut pernah menguasai setengah dari daratan bumi. Termasuk menghancurkan dinasti keislaman Abbasiyah Baghdad yang telah berkuasa selama 500 tahun. Khalifah Sultan Al Mu’tasim dan 50.000 tentaranya dibantai oleh pasukan Mongol. Mereka memang terkenal sangat kejam. Bahkan 1,8 juta umat muslim lainnya yang tinggal di Baghdad pun dibantai. Selain itu, kitab-kitab dan manuskrip-manuskrip kuno milik dinasti Abbasiyah di buang ke laut.

Saat itu, Mongol telah menguasai negeri Islam di Baghdad, Syria, dan Asia Tengah. Sementara tiga wilayah lainnya, yaitu Mekah, Madinah, dan Mesir belum dikuasainya. Karena itu, penguasa Mongol masa itu, Hulagu Khan, terus melakukan upaya penaklukan.




Perlawanan terhadap bangsa Mongol datang dari kerajaan Mesir. Pertempuran ini dipimpin oleh raja sekaligus panglima yang dikenal gagah dan tangguh serta dijuluki oleh Mongol sebagai Quthuz—yang berarti ‘singa yang menyalak’. Saifuddin Quthuz memiliki nama asli Mahmud bin Mamdud dan merupakan keturunan darah biru Raja Khawarizmi, yang masyhur pernah melawan pasukan Mongol. Namun karena kejadian tersebut, Quthuz yang masih anak-anak dijadikan budak. Suatu saat ia pernah dijual di pasar budak Damaskus dan berkali-kali diperjualbelikan. Hingga kemudian, ia sampai di negeri Mesir.

Sejak kecil, sebagai pangeran yang tumbuh di lingkungan kerajaan, Quthuz telah dilatih seni menunggang kuda, kepemimpinan, seni berperang, dan manajemen. Di Mesir, ia pun tumbuh menjadi pemuda yang shalih, gagah, tangguh, dan cerdas. Di sinilah ia memahami kehadiran Mongol yang akan menjadi bencana bagi umat Islam.

1 2