Berdzikir dengan mengingat Allah adalah kebutuhan seorang muslim. Sebagaimana Allah Swt menyampaikannya dalam sebuah ayat pada QS. Ar Ra’du ayat 28, yaitu: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram“. Berdzikir juga memiliki banyak keutamaan. Berikut ini beberapat hadits yang berkenaan dengan keutamaan mengingat Allah.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:




“Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang mengitari jalan jalan. Mereka mencari ahli dzikir. Apabila mereka menemukan suatu kaum yang berdzikir mengingat Allah, mereka akan memanggil, ‘Kemarilah supaya keperluan kalian terpenuhi.’ Mereka lalu meliputi kaum tersebut dengan sayap-sayapnya hingga langit dunia. Kemudian Allah bertanya kepada mereka para malaikat tersebut—padahal sebenarnya Allah tahu apa yang dilakukan—’Apa yang dilakukan hamba-hambaKu?’ Para malaikat menjawab, ‘Mereka mensucikan-Mu, mengagungkan-Mu, memuji-Mu, Meninggikan-Mu.’ Allah bertanya, ‘Apakah mereka melihat Aku?’ Para malaikat lalu menjawab, ‘Tidak. Demi Allah, mereka tidak melihat-Mu.’ Allah bertanya, ‘Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’ Para malaikat menjawab, ‘Jika mereka melihat-Mu niscaya mereka akan lebih keras lagi dalam beribadah, lebih keras lagi dalam meninggikan dan memuji-Mu, dan lebih banyak lagi dalam mensucikan-Mu.’ Allah bertanya, ‘Apa yang mereka minta dari-Ku?’ Para malaikat menjawab, ‘Mereka meminta surga.’ Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihat surga?’ Para malaikat menjawab, ‘Tidak, Demi Allah wahai Tuhanku, mereka tidak pernah melihat surga.’ Allah bertanya, ‘Bagaimana seandainya mereka melihat surga?’ Para malaikat menjawab, ‘Seandainya mereka melihat surga, niscaya mereka akan lebih giat lagi, akan lebih keras lagi dalam meminta, dan akan lebih tertarik lagi.’ Allah bertanya, ‘Lantas mereka meminta perlindungan dari apa?’ Para malaikat menjawab, ‘Mereka meminta perlindungan dari api neraka.’ Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihat neraka?’ Para malaikat menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Tuhanku, mereka tidak pernah melihat neraka.’ Allah bertanya, ‘bagaimana seandainya mereka melihat neraka?’ Para malaikat menjawab, ‘Jika mereka melihat neraka, niscaya mereka akan lebih lari lagi dari neraka dan lebih takut lagi terhadap neraka.’ Allah berkata, ‘Saksikanlah kalian semua bahwasanya sesungguhnya Aku telah mengampuni (dosa-dosa) mereka.’ Salah satu dari para malaikat itu lalu angkat bicara, ‘Di antara mereka ada si Fulan yang bukan golongan dari mereka. Si Fulan itu datang karena ada keperluan saja.’ Allah berkata, ‘Mereka adalah orang-orang yang duduk-duduk bersama dan orang yang duduk bersama mereka tidak akan celaka.’” (HR Bukhari)

Dalam shahih Muslim, seperti diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasululllah SAW bersabda:

“Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala memiliki para malaikat yang bertugas bepergian dan memiliki keistimewaan. Mereka mencari majlis-majlis dzikir. Apabila mereka menemukan majlis yang di dalamnya ada aktivitas dzikir maka mereka duduk bersama orang yang ada di majlis tersebut. Lalu mereka saling memayungi dengan sayap-sayapnya sehingga menjadi penuh antara mereka dan langit dunia. Apabila orang-orang di majlis dzikir tersebut bubar, maka para malaikat itu naik dan mendaki ke langit. Kemudian Allah Azza wa Jalla bertanya kepada para malaikat itu—padahal sebenarnya Allah mengetahuinya—’Dari mana saja kalian?’ Para malaikat menjawab, ‘Kami datang dari sisi hamba-hambaMu yang ada di bumi, mereka mensucikan-Mu, mengagungkan-Mu, bertahlil kepada-Mu, memuji-Mu, dan meminta kepada-Mu.’ Allah bertanya, ‘Apa yang mereka pinta kepada-Ku?’ Para malaikat menjawab, ‘Mereka meminta surga-Mu.’ Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihat surga-Ku?’ Para malaikat menjawab, ‘Tidak wahai Tuhanku.’ Allah bertanya, ‘Bagaimana seandainya mereka melihat surga-Ku?’ Para malaikat menjawab, ‘Mereka akan meminta agar Engkau menyelamatkan mereka.’ Allah bertanya, ‘Mereka minta selamat dari apa?’ Para malaikat menjawab, ‘Dari neraka-Mu, wahai tuhanku.’ Allah bertanya, ‘Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku?’ Para malaikat menjawab, ‘Tidak.’ Allah bertanya, ‘Bagaimana seandainya mereka melihat neraka-Ku?’ Para malaikat menjawab, ‘Mereka akan meminta ampunan kepada-Mu.’ Allah berkata, ‘Aku akan mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka pinta, dan menyelamatkan mereka dari apa yang mereka inginkan.’ Para malaikat bertanya, ‘Wahai Tuhanku, di sana ada si Fulan, seorang hamba yang sering berbuat kesalahan. Si Fulan sebenarnya hanya lewat kemudian duduk-duduk bersama mereka.’ Allah berkata, ‘Aku juga akan mengampuninya. Mereka adalah suatu kaum yang teman duduknya juga tidak akan mendapat celaka.’” (HR Muslim)

1 2