Dari segi bahasa, thaharah memiliki arti bersuci. Salah satu yang disebut dengan bersuci adalah wudhu, karena dapat membersihkan seorang mutawadhi (orang yang berwudhu) dari keadaan sebelumnya yang dianggap tidak suci. Thaharah adalah ciri yang sangat penting dalam islam yang menunjukkan sucinya seorang muslim, baik lahir maupun batin. Allah Swt dalam hal ini berfirman, “Pada hari harta dan anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy Syuara [26]: 88-89)

Mengenai suci secara batin, Allah Swt juga menyampaikannya pada ayat lain, “Katakanlah kepada para hamba-Ku: Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar).” (QS. Al Isra [17]: 53) Kemudian, pada ayat berikut Allah Swt juga memerintahkan kepada kita sebagai muslim untuk menjaga anggota tubuh kita dari perbuatan maksiat. “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al Isra [17]: 36)




Di sisi lain, muslim pun harus menjaga kebersihannya secara lahir. Setiap muslim diwajibkan untuk menyucikan badan, pakaian, dan tempat shalatnya dari najis agar sejalan dengan penyucian hati. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw berikut ini yang diriwayatkan melalui Abu Hurairah. “Allah tidak akan menerima shalat seseorang di antara kalian apabila berhadats, sehingga ia berwudhu.” (HR Bukhari)

Hadits lainnya juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Malik Al-Asy’ari. Rasulullah Saw bersabda, “Kesucian itu sebagian dari iman. Bacaan Alhamdulillah memenuhi timbangan. Subhanallah wa Alhamdulillah memenuhi apa yang berada di antara langit dan bumi. Sedangkan shalat adalah pelita, sedekah adalah bukti, kesabaran adalah cahaya, dan Al Qur’an adalah hujjah yang membenarkan atau menyalahkanmu.” (HR. Muslim)

Hadits di atas memiliki makna yang sangat agung dan mengandung salah satu ajaran pokok Islam, yang mencakup beberapa kaidah penting. Asy-Syathru berarti setengah, sebagaimana yang disampaikan dari maksud di sini merupakan kelipatan pahala yang terdapat di dalamnya berakhir sampai hitungan setengah dari nilai pahala iman. Ada yang berkata bahwa iman memiliki tingkatan. Pun dengan wudhu di mana hal tersebut tidak akan sah, kecuali jika kita melakukannya dengan iman. Demikian juga, dikatakan bahwa maksud di sini adalah shalat. Allah Swt berfirman, “Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman (shalat) itu.” (QS. Al Baqarah [2]: 143)

Kesucian adalah syarat sahnya shalat, sehingga kesucian dalam hal ini seperti menjadi bagian yang bernilai setengahnya. Meskipun tidak harus berarti setengah dalam arti sebenarnya. Istilah tersebut menegaskan pentingnya kesucian dalam shalat, bahkan merupakan sesuatu yang bisa menentukan sah dan tidaknya. Thaharah adalah wujud kepatuhan secara lahiriyah. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, “Tidak akan diterima suatu shalat tanpa bersuci dan tidak juga sedekah dari harta rampasan yang belum dibagi.” (HR. Muslim)

Hadits tersebut adalah nash diwajibkannya thaharah dalam shalat. Para ulama bersepakat bahwa thaharah adalah syarat sahnya shalat, sehingga wudhu saat hendak mendirikan shalat adalah wajib dilakukan. Landasan lainnya adalah firman Allah Swt berikut ini:

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka dan tangan kalian sampai ke siku. Kemudian sapulah kepala dan basuh kaki kalian sampai kedua mata kaki…” (QS. Al Maidah [5]: 6)

Allahu a’lam bi shawwab.