Cerita kali ini aku ingin bercerita tentang kisah seorang wanita dan suaminya. Serta aku ingin sekali mencari tahu tentang kewajiban seorang wanita yang telah Allah berkahi menjadi seorang ibu namun enggan memberi melakukan kewajibannya tersebut pada anaknya. Tak perlu mengambil contoh cerita jauh-jauh pada orang lain yang entah dimana keberadaannya. Cerita ini ku buat berdasarkan rasa penasaran bercampur sedikit sesalan terhadap kondisi ibu-ibu yang enggan menyusui anaknya hanya karena alasan pekerjaan. Cerita ini juga kubuat untuk para ibu-ibu muda yang juga menyambi sebagai wanita karier. Manakah yang lebih dari penting menyusui atau bekerja.

Adalah Mas Wawan, bukan nama asli memang, tapi biarlah kita setujui bersama nama tetangga ku itu Wawan. Mas Wawan ini tetangga ku, yang baru saja menjalani dua tahun awal berumah tangga. Alhamdulillahnya, mas wawan dan istrinya, mba Mawar (bukan nama asli) sudah dititipkan rezeki dan tanggung jawab oleh Allah swt seorang putri cantik, bernama Jasmin (bukan nama asli juga)

Kelahiran Jasmin menjadi dambaan dan penantian panjang mas Wawan dan mba Mawar. Tiga bulan pertama di awal pernikahan, belum ada tanda-tanda kehadiran Jasmin. Mas Wawan dan istri masih sabar menunggu dan terus mempersiapkan diri untuk dianggap layak oleh Allah swt agar dititipkan sang jabang bayi.




Setiap hari pasangan muda ini selalu bersabar menanti, dalam shalat, dalam bersedekah, dan dalam berhubungan dengan orang lain, khususnya anak kecil. Sampai pada bulan ketujuh masa pernikahan mereka, Allah swt seakan memberi sinyal jawaban dari permintaan besar pasangan muda ini. Mba Mawar dikabarkan telat tamu bulanan selama dua minggu. Harap-harap cemas mereka menunggu hasil tes. Mulut dan hati mereka masing-masing tak henti berdoa mengharap hasil terbaik.

Satu garis merah terlihat jelas, berharap garis ini akan berlanjut menjadi garis kedua. Dan yang diharapkan itu mulai menampakkan diri, samar-samar garis merah kedua mulai bersatu membentuk garis yang sama persis dengan garis pertama. Positif!! Pasangan ini akan bersiap menjadi orang tua. Alhamdulillah, tiada henti mereka berucap syukur. Dan mengabarkan keluarga besar tentang kabar baik ini.

Bulan demi bulan mulai dilalui mas Wawan bersama istri yang tengah mengandung si jabang bayi. Sang istri hamil muda. Ujian hidup tak sampai disitu, Allah swt masih ingin menguji pasangan muda ini. Akan kah masih bersabar dan tawakkal seperti penantian saat itu.

Bulan ketiga kehamilan, suami istri ini mengecek kondisi kehamilan dan ingin mengetahui perkembangan janin yang menjadi harapan besar mereka. Sayang disayang, tak ada pertumbuhan janin dalam rahim mba Mawar, sekalipun dinding rahim sudah mulai menebal untuk melindungi sang janin. Tapi sang janin yang akan dilindungi tak sedikit pun menampakkan tanda-tanda kehadirannya.

bersambung …

 

oleh : Chairunnisa Dhiee