Di zaman globalisasi ini, banyak lingkungan kerja yang tidak menawarkan situasi kondusif bagi seorang muslim, terlebih di negara yang minoritas muslim. Sebagian besar muslim yang tinggal di negeri barat banyak yang bekerja di lingkungan terbuka di mana tidak ada kode interaksi yang jelas antara pria dan wanita. Di lingkungan seperti ini kita seringkali sulit untuk menghindarkan diri dari berbagai dinamika, seperti kisah cinta, tekanan, drama sosial, atau politik kantor.

Pertanyaannya adalah, sebagai muslim–yang merupakan cerminan dari agama yang kita anut dan sekaligus seseorang yang profesional–bagaimana kita menghadapi situasi seperti ini? Jika ingin langkah yang sederhana mungkin adalah kita keluar saja dan mencari pekerjaan lain. Namun ini bukan satu-satunya solusi, dan bahkan bisa jadi bukan solusi yang tepat untuk kondisi kita.

Ada yang mengatakan bahwa sebagai muslim haruslah mewarnai bukannya terwarnai. Jangan sampai dengan lingkungan yang tidak Islami, perilaku kita pun tertular menjadi tidak Islami. Berikut ini 10 tips yang bisa kita terapkan agar kita bisa menjaga diri dari lingkungan kerja yang dinamis.




1. Pastikan bahwa pekerjaan kita setidaknya halal. Dari sudut pandang syariah, bekerja di lingkungan yang tidak islami lebih baik dihindari. Namun ini bukan hal yang mudah, mengingat sebagian besar budaya perusahaan menerapkan nilai-nilai yang lebih bersifat umum (bukan Islami), sekalipun di negara-negara mayoritas muslim.

2. Menerapkan prinsip Islami sejak awal bekerja. Waktu shalat, istirahat shalat Jumat, tidak berjabat tangan dengan lawan jenis, dan prinsip-prinsip lainnya. Kita mungkin tidak perlu mengumumkannya kepada rekan kerja kita, karena di sini yang terpenting adalah kita mempraktikkannya dan berharap orang lain akan memahaminya. Jika mereka mengajukan pertanyaan, jawab saja secara singkat dan jelas tentang peraturan dan kewajiban dari agama yang kita anut. Kita bisa memberikan jawaban yang lebih detail, jika mereka tertarik untuk mencari tahunya. Jika kita tidak melakukannya di awal, tapi tiba-tiba kita ingin menerapkannya, mungkin beberapa orang akan berkomentar tidak enak (misalnya kita tidak biasa shalat Jumat, sehingga orang lain mencemooh dengan mengatakan huh, dia tidak biasanya shalat!), lebih baik kita mengkomunikasikannya kepada atasan (untuk meminta jeda waktu untuk shalat Jumat) dan menjelaskan kepadanya akan pentingnya permintaan tersebut.

3. Murah senyum dan ramah kepada siapapun. Jangan membentuk geng di kantor. Kita tentu tidak ingin disebut dengan geng A atau kelompok B. Jadilah netral, sehingga kita akan terhindar 99% dari politik kantor. Terlebih jika orang-orang di kantor kita adalah muslim dan non-muslim. Lebih baik bersikap inklusif dan baik terhadap keduanya.

1 2