(Foto: Masjid Xi’an/muslimvillage.com)

Setiap hari Jumat, para pedagang di sebuah pasar dekat Drum Tower yang terletak di sekitaran sebuah masjid kuno Xi’an yaitu Masjid Xi’an, Provinsi Shaanxi, China, tengah menanti para pelanggan. Mereka adalah para jamaah yang rutin melakukan shalat Jumat di masjid tersebut. Pasar ini merupakan sebuah blok kecil di jalan-jalan sempit yang dipenuhi dengan pepohonan rindang. Selain menanti para jamaah shalat Jumat, di area ini juga ada banyak toko yang siap menyambut kunjungan para wisatawan. Berbagai restauran yang ada di sekitar juga menyediakan berbagai jenis makanan lokal kepada para pengunjung.




Banyaknya para penjual hijab dan busana muslim, serta dipajangnya berbagai tanda makanan halal menunjukkan tidak diragukannya lagi tradisi muslim di wilayah ini yang masih baik dan tetap hidup. Makanan yang dijual pun tidak ada yang mengandung daging babi–yang biasanya selalu ditemukan di hampir seluruh menu masakan China. Berbelanja di sini bagi para turis mancanegara mungkin cukup menantang. Terlebih ketika mereka harus memesan makanan dengan menggunakan bahasa tubuh yang cukup menyulitkan. Namun tenang saja, karena para pedagang lokal di sana sudah terbiasa dan akan memahami maksud dari para wisatawan tersebut.  Mereka pun akan dengan senang hati menyajikan yogurt dingin untuk para pelanggan yang sedang menanti pesanan.

Ada kurang lebih 20.000 muslim di wilayah Xi’an dan mereka memiliki hampir semua toko yang ada di sekitar kompleks Masjid Xi’an ini. Secara etnis mereka merupakan suku Hui, yaitu sebuah suku yang berasal dari wilayah barat daya. Sebenarnya ada lebih dari 10 juta orang Hui di China di mana sebagian besar dari mereka adalah muslim yang pandai berbahasa Mandarin. Sebenarnya populasi muslim terbanyak di China berada di wilayah barat laut Provinsi Xinjiang. Secara etnis mereka adalah orang-orang Uyghur. Akhir-akhir ini mereka memang berada di bawah pengawasan khusus pemerintah karena adanya isu kelompok ekstrimis di wilayah tersebut. Namun, syukurnya pemerintah di sana masih memperlakukan muslim dengan adil.

Di masa lalu, wialayah Xi’an menjadi pusat kegiatan ekonomi masa kerajaan selama sepuluh dinasti. Mereka melakukan perdagangan bersama muslim Arab yang berdagang melalui Jalur Sutera. Karena itu, tidak mengherankan jika semasa Dinasti Tang pada abad 7, banyak pedagang dari Arab yang singgah ke daratan China. Salah satu rombongan pertama yang datang adalah Sa’ad bin Abi Waqqas–seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan Hazrat Usman. Ia membawa pesan untuk Kaisar Gaozong. Kaisar Gaozong pun menerima para muslim tersebut dengan baik, juga menghormati mereka. Pihak dinasti bahkan sampai membangunkan masjid pertama bagi para muslim di sana–yaitu Masjid Huaisheng di Canton.

Di kemudian hari, banyak muslim yang akhirnya menetap di wilayah Xi’an, hingga selama berabad-abad mereka menyejahterakan berbagai wilayah di China. Mereka juga menjadi pihak atau kelompok yang cukup berpengaruh pada masa pemerintahan Dinasti Ming (1368-1644). Menurut sejarah, Kaisar Zhu Yuanzhan (sang pendiri dinasti) memiliki enam orang tentara muslim. Salah satunya adalah Lan Yu, yaitu seorang tentara memimpin pasukan di Tembok China dalam melawan Mongol pada tahun 1388. Selain itu, seorang laksamana pada masa kekaisaran Yongle (abad 14) bernama Zheng He, juga merupakan seorang Hui yang lahir dari keluarga muslim.

Berbagai pembangunan masjid menjamur di China selama Dinasti Ming tersebut. Mereka semua mengadposi arsitektur tradisional China kuno yang dipengaruhi oleh masa kepemimpinan Tang dan Ming.

1 2