Kematian adalah hal yang misterius. Tetapi keadaannya adalah kepastian. Oleh karena itu, kita harus menyiapkan diri dengan bekal yang banyak. Hidup ibarat musafir yang sedang berlayar menuju tempat tujuan (akhirat). Sayangnya, tidak banyak manusia saat ini mengingat sesuatu yang pasti akan terjadi itu. Kita malah lebih sering terlena dengan gemerlap dunia yang singkat. Hidup kita tidak lagi dilandasi oleh niat ibadah karena Rabb, melainkan kita sibuk berlomba mengejar perhiasan duniawi yang serba semu.

Hal ini telah di ingatkan oleh Allah swt dalam Al-Quran surah Al-Anbiya ayat 35 :

Setiap yang berjiwa pasti akan mati dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah (ujian) dan hanya kepada Kami-lah kalian akan dikembalikan”




Dalam surah lain disebutkan,

Dimana saja kalian berada, kematian pasti akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS.An-Nisa’ : 78)

Ketika ada seseorang saudara kita wafat, harusnya kita menjadikan hal tersebut sebagai peringatan bahwa kelak kita akan kembali ke hadirat-Nya. Dimana pada saat itu kekayaan, kecantikan, dan kedudukan tidak berguna lagi. Tidak ada manusia, sekalipun itu manusia super yang mampu menolak kematian. Semua pasti akan mengalaminya.

Cukuplah kematian itu sebagai nasihat,” begitu sabda Rasulullah saw, yang diriwayatkan Thabrani dan Baihaqi.

Sesungguh setiap manusia yang masih diberi kesempatan hidup oleh Illahi Rabbi haruslah memperbanyak mengingat mati. Jika ingin hidup dengan tenang, tenteram, dan bahagia, hendaklah kita memperbanyak mengingat kematian. Dengan mengingatnya, kita mudah tersadar bahwa dunia ini hanya sebatas persinggahan, bukan tempat keabadian. Mengingat mati adalah ibadah yang sangat dianjurkan.

Abu Hurairah ra meriwayatkan : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Tirmidzi).

Menurut Hasan Al-Bashari, seorang hamba yang sering mengingat kematian maka akan merasakan bahwa betapa kecilnya dunia ini dan tiada berarti. Sesungguhnya yang ada di atas dunia ini hanyalah hina baginya.

Rasulullah saw, memuji umat beliau yang selalu mengingat kematian dengan sebutan “orang-orang cerdas”.

Orang cerdas adalah orang yang mengekang hawa nafsunya dan mempersiapkan perbekalan untuk kehidupan setelah mati. Sementara itu, orang lemah adalah orang yang menuruti hawa nafsunya lalu berangan-angan terhadap Allah.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Baihaqi)

Bencana besar jika kita sebagai seorang muslim tidak memahami hakikat hidup kita di dunia. Kita hanya akan menggunakan umur kita untuk kesenangan dan kedurhakaan. Jika sudah demikian, kita akan semakin takut jika kematian memburu kita.  Dan kita menjadi sangat gampang meninggalkan shalat, enggan membayar zakat, dan juga meremehkan perintah agama.

Jangan sampai kedudukan kita selama hidup berjalan seperti apa yang dikatakan oleh Yahya bin Mu’adz, “Aku heran dengan orang yang menyesal karena kekurangan harta tapi tidak menyesal karena umurnya berkurang.”

 

oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber buku saku kumpulan ceramah jumat Ustads Ahmad Zainuddin, Lc)