Liberation Mosque merupakan sebuah masjid bergaya neo klasik–hampir seperti bangunan Gotic–dengan pola garis hitam putih pada struktur batunya. Bangunan masjid yang bergaya tidak biasa ini berlokasi di distrik Tepebasi di Kota Gaziantep, Turki. Ukiran batu dan kolom bergaya Yunani yang membingkai jendela merupakan fitur lainnya yang mencirikan gaya klasiknya. Minaret atau menara masjidnya bertengger cantik di atas tower persegi yang sebelumnya mungkin menjadi tower gereja di kota kuno tersebut.

Bangunan abad 19 –yang merupakan karya keponakan dari Sultan Abdul Hamid II tersebut– dahulunya adalah sebuah katedral yang digunakan oleh kurang lebih 20.000 umat Kristiani Armenia. Pada saat bangsa Armenia berada dalam kekuasaan kekhalifahan Turki Utsmani, bangunan tersebut dialih fungsikan. Bangunan tersebut juga sempat menjadi gudang dan penjara pada masa Perang Dunia II. Karena itu, bekas-bekas bar penjara yang bersisian dengan bingkai jendela masih terlihat meskipun bangunan tersebut telah difungsikan sebagai masjid sejak tahun 1986.

Sisa-sisa peninggalan sejarah masih tampak di sekitar bangunan Liberation Mosque, yaitu berupa ruang bebatuan (seperti gua) yang interior di dalamnya telah menghitam karena asap lilin dari era sebelumnya. Mungkin sebelumnya ruang tersebut digunakan untuk tempat sesembahan kuno. Tanda peninggalan sejarah lainnya pada bangunan ini adalah angka tahun 1892 yang terukir di batu yang terpasang di fasad (muka gedung) di bagian timur. Merupakan tanda dari selesainya pembangunan oleh arsitek abad 19, Sarkis Balyan.




Kota Gaziantep memang bebeberapa kali mengalami pendudukan. Setelah Perang Dunia Pertama berakhir, pasukan sekutu menduduki Antep (sebutan untuk Gaziantep saat itu). Pihak yang pertama datang adalah Inggris dibawah pimpinan Sir Marks Sykes, lalu disusul oleh Perancis pada Oktober 1919 –yang datang bersama dengan relawan Armenia yang bergabung dalam Legion d’Orient di Port Said. Saat itu pertarungan yang melibatkan tiga pihak–yaitu Turki Utsmani, Perancis, dan Armenia–pun terjadi.

Salah satu orang yang mencatat peristiwa ini adalah Umit Kurt, seorang mahasiswa dari Harvard, yang merupakan keturunan Kurdish-Arab yang lahir di kota Gaziantep. Saat ini dia merupakan akademisi di Harvard’s Center for Middle East Studies dan menuliskan tesis doktoralnya tentang bangsa Armenia yang menghuni Antep pada tahun 1890-an. Salah satu hal yang dituliskan adalah pertempuran terkenal Aintab melawan Perancis, yang diakhiri dengan pelepasan Antep oleh Perancis pada Desember 1919. Di kemudian hari, pemerintah Turki menghadiahi relawan muslim yang terlibat di dalamnya dengan gelar kehormatan Gazi. Termasuk menjadikan bangunan bekas gereja menjadi Liberation Mosque.

 

Oleh: An Nisaa Gettar