[Baca Sebelumnya: Mengapa Harus Mengingat Kematian?]

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat, dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Lukman : 34)

Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (QS. Qaf : 19 )




Keempat, manusia yang telah meninggal maka mulai saat itulah kiamatnya, tidak ada lagi waktu untuk beramal.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Orang-orang kampung Arab jika datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka bertanya tentang hari kiamat, kapan datangnya, lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melihat kepada seorang yang paling muda dari mereka, kemudian beliau bersabda: “Jika hidup pemuda ini dan tidak mendapati kematian, maka mulai saat itulah kiamat kalian datang.” (HR.Muslim)

Kelima, dengan mengingat kematian kita melapangkan dada dan menambah ketinggian frekuensi ibadah.

Artinya: “Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melaikan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia akan menyempitkannya.” (Hadits Riwayat Ibnu Hibban dan dishahihkan dalam kitab Shahih Al-Jami’.)

Keenam, dengan mengingat kematian kita akan menjadi mukmin yang cerdas dan berakal. Seperti yang tertulis dalam riwayat berikut :

“Abdullah bim Umar radhiyallahu ‘anhuma bercerita: “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad saw lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling terbalik?”, beliau menjawab: “Yang paling baik akhlaknya”, orang ini bertanya lagi: “Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas)?”, beliau menjawab: “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah yang berakal”. (HR Ibnu Majah)

Ketujuh, di dunia yang ada hanya amal perbuatan dan tidak ada hitungan, sementara besok di akhirat yang ada adalah sebaliknya, hanya ada hitungan tidak ada amal.

Ali bin Thalib ra berkata, “Dunia sudah pergi meninggalkan, dan akhirat datang menghampiri, dan setiap dari keduanya ada pengekornya, maka jadilah kalian dari orang-orang yang mendambakan kehidupan akhirat dan jangan kalian menjadi orang-orang yang mendambakan dunia, karena sesungguhnya hari ini (di dunia) yang ada hanya amal perbuatan dan tidak ada hitungan dan besok (di akhirat) yang ada hanya hitungan tidak ada amal.” (Shahih Bukhari

 Wallahu a’lam bish shawab.

 

oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber buku saku kumpulan dari ceramah Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc)