“Manusia yang sebenar-benar buta adalah mereka yang hidup tanpa dapat melihat adanya kematian di hadapan mereka” (ustadz Hishamuddin AbdulAziz)

Ketika seorang saudara kita ada yang meninggal, maka jadikanlah hal tersebut sebagai peringatan bahwa kelak kita juga kan kembali ke hadirat Rabbi. Dan pada saat itu, semua harta benda, kecantikan, ketampanan, dan kedudukan kita selama di duniia tiada lagi berarti. Tidak ada satu manusia pun, dan bahkan seluruh makhluk hidup dapat mengelak atau berlari dari kematian. Karena kita semua pasti akan mengalami kematian.

Mengapa harus mengingt kematian? Ya ini lah yang harus kita lakukan selagi raga masih dikandung badan dan nafas masih bisa kita lakukan. Perbanyaklah mengingat kematian karena :




Pertama, mengingat kematian termasuk ibadah yang sangat dianjurkan Rasulullah saw.

“Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :’Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan dalam kitab Shahih Tirmidzi)

Kedua, kematian merupakan maut yang bisa kapan saja menghampiri kita tanpa sedikit pun pernah keliru dalam hitungannya. Maka jauhilah perbuatan dosa dari kesyirikan, bid’ah juga maksiat lainnya.

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf :34)

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Ak-Munafiqun : 11)

Ibnu Utsaimin ra berkata, “Renungkanlah wahai manusia, (sebenarnya) kamu akan dapati dirimu dalam bahaya, karena kematian tidak ada batas waktu ketahui, terkadang seorang manusia keluar dari rumahnya dan tidak kembali kepadanya (karena mati), terkadang manusia duduk di atas kursi kantornya dan tidak bisa bangung lagi (karena mati), terkadang seorang manusia tidur di atas kasurnya, akan tetapi dia malah dibawa dari kasur ke tempat ke pemandian mayatnya (karena mati). Hal ini merupakan sebuah perkara yang mewajibkan kita untuk menggunakan sebaiknya kesempatan umur, dengan bertaubat kepada Allah Azza Wa Jalla. Dan sudah sepantasnya manusia selalu merasa dirinya bertaubat, kembali, menghadap kepada Allah, sehingga datang ajalnya dan dia dalam sebaik-naiknya keadaan yang diinginkan.”

Ketiga, kematian tidak diketahui dan tak ada yang mengetahui melainkan Allah Ta’ala semata. Tetapi kematian pasti akan mendatangi setiap yang bernyawa, maka jauhilah hal-hal yang tidak bermanfaat selama kita hidup.

Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah berhutang. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran : 185)

bersambung …

Wallahu a’lam bish shawab.

oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber buku saku kumpulan dari ceramah Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc)