Menggantungkan Hidup Hanya di Tangan-Nya (Part-6)




Kepergian mbah yang begitu cepat ku rasa, membuat kehidupan ku kian hari kian tak menemui cahaya terang. Aku semakin liar dan tak terarah, masih berteman dengan preman pasar dan anak-anak jalanan, masih setia dengan minuman keras, dan masih doyan menggebuki orang yang kira-kira mulai terasa mengganggu.

Aku jarang tinggal dirumah, selain untuk menghindari papa, aku juga merasa lebih nyaman tinggal diluar, dirumah teman kah, atau emperan toko, atau di pinggir jalan karena terlalu banyak minum hingga tertidur entah dimana. Kelakuan buruk ku itu berjalan cukup lama, sampai pada saat aku seperti di sadarkan Dia ketika kejadian keroyokan itu.

Sedikit cerita tentang kejadian yang membuat ku sadar dari segala kelakuan buruk ku. Saat itu aku dan teman-teman ku sesama preman dan anak-anak jalanan, seperti biasa pesta minum-minuman dan obat-obatan, tapi tenang saja senakal-nakalnya aku, sedikit pun tak pernah kusentuh barang haram itu. Malam semakin larut, aku dan mereka semakin asik mabuk dengan segala nikmat dunia yang ada. Sampai akhirnya, secara tiba-tiba lelaki kekar dengan tubuh bak Ade Rai membekap dan memukul aku dan teman-teman. Sekitar sepuluh orang lebih jumlah mereka, jelas ini membuat pertahanan ku kalah jumlah apalagi saat itu kami sedang dalam keadaan sempoyongan karena mabuk berat.




Mereka memukul ku dengan kayu mungkin, atau bisa jadi besi. Yang pasti aku merasa sangat sakit di bagian punggung dan seperti darah keluar dari telingaku. Ditengah rasa sakit dan darah yang bercucuran dari kuping dan bagian lainnya dari tubuhku, aku mencoba melawan mereka-mereka yang mengeroyok ku. Jatuh bangun aku mencoba memukul lelaki-lelaki yang ternyata telah berhasil menghilangkan nyawa teman-teman ku. Mereka tewas, tewas dipukuli para lelaki yang entah dari mana datangnya dan apa tujuan mereka.

Tak sanggup lagi tubuh ku untuk sekedar berdiri, tubuh ku jatuh tepat disamping Imam, teman yang kukenal dari SMA, dia kakak kelas ku yang cukup ditakuti saat zaman sekolahan. Namanya Imam, tapi sifat jauh dari agama. Namun, Imam sosok teman yang baik dimataku, karena dia selalu mengingatkan ku untuk tidak mengganggu orang-orang susah, cukup lah mengusilkan orang-orang kaya yang ‘songong’ katanya. Imam tetap jadi teman yang kurasa sangat baik, sekalipun dia sangat jauh dari ajaran agamanya, Islam.

Di sisa-sisa nafas yang masih kucoba hirup, kulihat mereka teman-teman ku yang dulunya terlihat perkasa, kuat, pemberani, dan selalu ada saat disampingku. Saat itu mereka tetap ada disampingku, tapi dengan jasad yang sudah terpisah dari roh. Mereka semua meninggal akibat serangan yang membabi buta tadi, dan tinggal aku yang hampir setengah hidup dan hanya menunggu ada seseorang yang menolong sebelum aku juga ikut bersama teman-teman yang telah berpulang.

Entah sudah berapa hari setelah kejadian malam itu aku terbaring dirumah sakit. Seingatnya, aku begitu merasakan sakit luar biasa di beberapa bagian tubuhku yang masih terbalut perban. Ah…, aku masih hidup fikirku. Tak ada orang yang menunggu ku di rumah sakit. Tak ada mama, papa, atau adik yang kuharapkan kehadirannya di samping ranjang ku. Sepertinya aku benar-benar sudah tak dipedulikan. Sudahlah, aku sudah terlatih dari kecil dengan sikap keluarga yang seperti ini.

Selama dirumah sakit, banyak bayangan hidup yang kulalui terlintas dalam benak dan fikiran ku. Otakku bekerja dengan cukup keras, mengingat apa saja yang sudah ku perbuat dalam hidup ku selama 18 tahun itu. Adakah sesuatu yang bermanfaat pernah kuperbuat? Sayangnya tidak ada, sama sekali tidak ada. Aku hampir saja mati karena kejadian malam itu, tapi kenapa masih diberi kesempatan untuk membuka mata dan menjalani kehidupan-Nya, kenapa tak dicabut saja nyawa ku seperti teman-teman ku yang ternyata semua telah tewas karena pengeroyokan itu. Kenapa aku masih disisakan kesempatan untuk hidup?? Kenapa??

Jujur saat itu aku merindukan mbah, sangat merindukannya. Harapan ku ada mbah di samping ranjang saat pertama kali kusadar. Tapi aku harus kembali ke kenyataan hidup, mbah sudah pergi, dan sekarang teman-teman ku pun telah menyusul. Aku berfikir, orang sebaik mbah yang taat luar biasa pada ajaran agama bisa menghadap-Nya secepat itu, pun dengan teman-temanku yang kuanggap mereka sangat kuat,nakal tapi mereka kembali ke pangkuan-Nya dengan cara yang begitu tragis. Lantas,akan ku apakan kehidupan dan diriku ini? Masihkah aku bertahan dengan segala keburukan hidup yang selama 18 tahun ini rutin kulakukan? Akankah hidupku begini-begini saja, tak jelas arah masa depannya? Akankah kubiarkan papa terus menganggap remeh diriku sehingga hubungan kami kian memburuk? Akankah saat aku berpulang kelak, aku masih dalam keadaan buruk? Akankah,, akankah,, akankah.. terlalu banyak pergumulan batinku saat itu. Terlalu banyak sampai kepala ku sakit sekali. Dan semuanya kembali gelap.

bersambung …

Oleh : Chairunnisa Dhiee

Baca Juga:

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 1)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 2)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 3)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 4)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 5)

Leave a Reply