Tidak ada sesuatu yang paling mulia bagi Allah selain doa.” (HR. Ahmad, Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim)

Kita adalah makhluk yang diciptakan dengan kelemahan. Allah Ta’ala pun telah menegaskan hal ini dalam surah An-nisa ayat 28, “…dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”

Kelemahan ini telah menjadi takdir yang melekat dalam diri kita sebagai manusia. Jangankan membuat semut, mereka-reka tanggal dan tempat kelahiran dan kematian kita saja kita tak sanggup. Dengan demikian, apa alasan kita untuk menyombongkan diri, untuk malas, bahkan menghindari diri dari aktivitas memohon pertolongan (berdoa) kepada sang Pencipta dan Pemilik kehidupan.




Sesungguhnya barangsiapa tidak meminta kepada Allah (berdoa) maka Allah akan murka kepadanya,” demikian nasihat Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Menurut istilah, berdoa berarti memohon kepada Allah azza wa jalla secara langsung untuk memperoleh karunia dan segala yang diridhai-Nya. Sebagai ciptaan-Nya yang lemah, kita tak akan pernah bisa lepas dari doa bagaimana pun kondisi kita. Bukan hanya manusia pada umumnya, orang-orang yang paling mulia di sisi Allah pun (Nabi dan Rasul) yang kita tahu selalu mendapat perlindungan-Nya tetap senantiasa memohon pertolongan kepada Allah swt lewat doa. Mereka yang telah dijamin didunia dan di akhirat saja masih setia berdoa kepada-Nya, lantas mengapa kita tidak atau bahkan sombong bahkan lupa?

Seperti halnya yang selalu dilakukan suri tauladan kita, baginda Rasulullah saw yang tak pernah berhenti mengisi harinya dengan doa-doa kepada Allah ta’ala, sekalipun Allah telah menjamin beliau masuk surga. Rasulullah saw selalu berdoa kepada Allah Swt untuk dihindari dari kekurangan. “Ya Allah cukupkanlah aku dengan yang halal, terhindar dari yang haram, dan beri aku kekayaan dengan karunia-Mu serta terhindar dari karunia selain-Mu”. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Jika para Nabi dan Rasul saja berbuat demikian, tentu saja kita sebagai umat harus lebih banyak memohon kepada Allah melalui doa, baik dalam keadaan shalat ataupun di luar shalat. Jadikanlah kegiatan berdoa sebagai ajang ngobrol, curhat dan mengadukan apapun hal yang kita rasakan, karena Allah lah satu-satunya dan tiada dua sebagai tempat kita berkeluh kesah. Seorang muslim yang gemar berdoa akan selalu mendapat pertolongan. Dan, berdoa pun menjadi amal ibadah yang paling dicintai Allah azza wa jalla.

Dari Aisyah ra Rasulullah saw bersabda,”Tidak ada sesuatu yang paling mulia bagi Allah selain doa.” (HR. Ahmad, Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim)

Mengutip ceramah ust. Iskandar Ahza MA (dalam buku saku ceramah mimbar Jumat) menjelaskan bahwa bila kita ingin doa kita dikabulkan Allah Ta’ala, kita harus berusaha sesuai dengan prinsip hukum alam (sunnatulah) dan meyakini kuasa Illahi serta usaha yang dilakukan tidak bertentangan dengan syariat. Selain itu, kita perlu memperhatikan pula syarat doa yang akan dikabulkan Allah Ta’ala :

Pertama, hati kita haruslah bersih. Sahabat Ali mengatakan, Allah swt tidak menerima doa hati orang yang lengah (lalai).

Kedua, harta kita juga harus bersih dari unsur yang haram. Karena Allah Ta’ala tidak akan menerima orang yang berdoa sedang pakaian yang kita kenakan dan makanan yang kita makan dari sumber yang haram.

Ketiga, berakhlak baik dan jujur. Dan terakhir tidak melanggar aturan dan larangan Illahi Rabbi.

Jadi, kita tidak cukup hanya mengandalkan doa semata tanpa diiringi perjuangan usaha nyata yang baik dan maksimal. Doa mustahil akan dikabulkan Allah Ta’ala jika kita sendiri tak ada niat untuk mengusahakannya. Jangan sampai Allah Ta’ala melihat kita tanpa melakukan usaha yang berarti yang sejalan dengan sunnatulah. Demikian pula usaha yang dilakukan dan cara mengusahakannya tidak menyimpang dari aturan Allah Ta’ala, agar mendapat keuntungan dan keberkahan-Nya (halalan thoyyibah, mubarokah).

 

Oleh : Chairunnisa Dhiee (sumber buku 200 Amalan Saleh Berpahala Dahsyat, dan buku saku ceramah Ust.Iskandar Ahza MA & Buya H.M Alfis Chaniago)