Mengapa Kita Perlu Berdoa?




Seperti yang selama ini kita ketahui bersama, doa merupakan seruan, permohonan dan harapan kepada Rabb untuk kebaikan dan keselamatan diri dan umat manusia pada umumnya. Dan, doa juga merupakan komunikasi spiritual antara hamba dengan sang Khaliq. Dengan doa kita dapat menjadikan hal tersebut sebagai pengakuan adanya Dzat yang Maha Kuasa dengan seperangkat hukum-hukum-Nya, yang berada diluar kemampuan kita yang hanya seorang hamba. Sehingga kita merasa perlu dan sangat butuh dengan Allah Swt, sebagai satu-satunya tempat bergantung.

Lantas mengapa kita perlu berdoa?




Orang yang berdoa menandakan bahwa kita beriman, bahwa kita percaya ada Dzat yang Maha Besar melebihi apapun di semesta ini dan yang hanya pada-Nya lah kita mengadukan semua suka duka kehidupan dan bahwa secara kesadaran internal kita percaya segala kejadian yang ada didunia ini tidak terlepas dari kehendak Allah Swt.

Sebagai manusia, sesungguhnya yang dapat kita lakukan hanyalah berusaha secara maksimal, dan menyerahkan hasil akhir dari segala usaha-usaha tersebut hanya kepada-Nya, biarlah Allah swt yang menentukan hasilnya. Dengan pemahaman ini kita tidak akan mungkin bersikap sombong bila berhasil dalam setiap usaha, karena keberhasilan yang kita dapatkan itu tidak semata-mata ikhtiar kita sendiri melainkan adanya bantuan dan keridhoan dari sang Pemilik rencana hidup terbaik, Allah Azza Wa Jalla.

Ingatlah, ada peran Allah swt dalam setiap langkah dan rencana hidup yang kita jalani, maka bila mendapat nikmat rezeki ada baiknya kita bersyukur baik secara lisan maupun dengan perbuatan (bilhal). Yaitu dengan mengucap alhamdulillah yang juga diikuti dengan mengeluarkan sebagian keuntungan (infaq atau sedekah) untuk berbagi dengan orang-orang di sekitar kita, yang mungkin sedang memerlukan bantuan.

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kamu akan menambah (Nikmat) kepadamu, jika kamu mengingkari (nikmatku), azabku sangat pedih. (QS. Ibrahim [14]:7)

Sebaliknya, jika kita sedang dalam keadaan gagal, kita tidak boleh cepat putus asa, sebab Allah Swt memang belum menakdirkan memberikan kita rezeki atau setidaknya belum saatnya doa kita dikabulkan. Allah swt maha tahu tentang kondisi kita. Ada saat dimana, sesuatu hal menurut anggapan kita mungkin adalah sebuah kebaikan bagi diri kita, namun  bisa jadi Allah Swt menganggap hal terseubt tidak baik untuk diri kita. Sekali lagi, Allah Ta’ala lebih tahu tentang kondisi hamba-Nya. Jangan pernah sedikit pun membiarkan rasa kecewa terselip di hati karena doa dan usaha yang tak kunjung dikabulkan oleh Rabb kita.

Kegagalan bukan akhir dari segalanya, kegagalan adalah sukses yang tertunda, sehingga kita menyikapinya dengan tetap bersikap baik sangka (khusnudzon) kepada Illahi Rabbi dengan semakin memperbanyak istighfar sambil tetap berusaha mengevaluasi faktor-faktor penyebab kegagalan. Akan semakin baik jika kita kemudian mengatur strategi baru yang lebih baik dengan penuh optimisme dan semakin bertawakkal kepada Allah Ta’ala. Insyaa Allah, Illahi Rabbi akan senantiasa mengabulkan segala doa dan usaha-usaha kita.

Berdoa juga merupakan wujud ketaatan seorang hamba terhadap perintah Allah Ta’ala. Bukankah Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk berdoa kepadanya?

Dan Rabb-mu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS Al Mu’min[40]:60)

Bahkan dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan kepada kita semua bahwa Allah Ta’ala akan murka kepada hamba-Nya yang tak mau berdoa meminta kepada-Nya. 

Sesungguhnya barangsiapa tidak meminta kepada Allah (berdoa), maka Allah akan murka kepadanya (HR Tirmidzi)

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari jiwa dan hati yang malas dan sering lengah dari berdoa kepada-Nya.

Aamiin ya mujibassaailiin

 

sumber: buku saku mimbar Jumat oleh Ust. Iskandar Ahza MA

 

 

Leave a Reply