Menggantungkan Hidup Hanya di Tangan-Nya (Part 7)




Pergumulan batin yang ku rasakan saat dirumah sakit saat itu membuatku bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik kedepannya, setidaknya lepas dari minum-minuman, begadang gak jelas, dan yang terpenting memotong rambut ku yang sudah tak berbentuk saat itu. Hampir dua minggu lebih dirumah sakit, akhir di hari ke13 perawatan, aku diizinkan pulang oleh dokter. Akhirnya aku pulang bersama mama dan papa. Oh iya, mama papa mulai menjenguk dan mengurus ku dirumah setelah hampir 5 hari tak ada seorang manusia dari kalangan keluarga yang merasa kehilangan diriku.

Sesampainya dirumah, aku kembali beristirahat di kamar. Tak ada sesuatu hal pun yang ku lakukan, hanya istirahat dan sesekali keluar kamar untuk makan. Bosan sekali rasanya. Beberapa kali aku mencoba untuk keluar sekedar jalan-jalan. Tapi kondisi tulang punggung yang belum sepenuhnya stabil, membuat ku mau tak mau harus kembali lagi ke rumah, dan istirahat lagi. Begitu saja sampai sebulan setelah keluar dari rumah sakit. Entah itu kayu, balok atau besi, yang pasti benda yang memukul punggung ku kemarin berhasil membuat tulang punggung ku retak. Ah,, itu kejadian yang cukup kelam kurasa.

Malam itu, hari Rabu di minggu terakhir bulan April tahun 2004, tepat 3 bulan setelah kejadian pengeroyokan, 10 bulan setelah aku lulus sekolah, dan 7 bulan setelah kepergian mbah. Malam itu untuk pertama kalinya aku izin ke papa dan mama untuk bisa melanjutkan pendidikan pada jenjang perkuliahan.




Pa, ma,,aku mau kuliah?” aku buka pembicaraan ditengah makan malam yang dingin itu.

Kuliah? tumben kamu mikir ke sana. Apa karena teman-teman kebanggaan kamu itu sudah pada mati!” jawab papa ketus, tanpa sedikit pun melirik ku. Aku diam.

Kamu mau kuliah dimana? Mbo kalau mau kuliah itu yang gena, ojo neko-neko seperti SMA kemarin.” mama mulai ikut berbicara.

Aku mau coba ikut SMPTN, ambil jurusan teknik informatika.” jawabku. Cukup lama papa mama diam, tak ada respon, tak ada pandangan keyakinan pada ku. Sudahlah, kalau mereka tak ingin menguliahkan ku, biarlah ku usahakan semuanya sendiri. Toh aku laki-laki, harus bisa membuktikan semua omongan ku. Seperti kata mbah dulu, “kamu itu anak lanang Ray, harus iso dipegang kata-kata’e”. Baik kita mulai pembuktiannya.

Yasudah kalau kamu mau kuliah. Tapi papa gak bisa bantu biaya kuliah kamu sepenuhnya. Kamu tahu sendiri kantor papa akhir-akhir ini minus. Semoga kamu bisa mengerti.” jelas papa.

Belakangan ini, perusahaan papa memang berada di saat-saat yang genting. Papa malah harus hutang ke bank untuk menutupi segala operasional kantor. Sementara mama sama sekali tidak bekerja, dan adik perempuan ku saat itu pun sedang sekolah SMA. Mau tak mau, aku harus mau memutar otak memikirkan bagaimana aku bisa kuliah.

Malam itu menjadi malam terakhir ku makan malam bersama mereka. Mereka yang terlihat tidak memperdulikan ku, seperti tak lagi menganggap ku, tapi jauh di dalam lubuk hati papa dan mama kutahu masih ada rasa itu. Rasa kasih sayang yang selalu kurindukan dan kuharapkan, terutama dari dia yang ku sebut papa.

bersambung …

Oleh : Chairunnisa Dhiee

Baca Juga:

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 1)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 2)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 3)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 4)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 5)

Menggantungkan Hidup Hanya Di Tangan-Nya (Part 6)

 

Leave a Reply