Mengingat kematian, kita harus meyakini bahwa setiap ada awal maka ada akhir. Setiap ada kelahiran—yang merupakan awal—maka akan ada kematian—yang menjadi akhirnya. Manusia meripakan makhluk ciptaan Allah Swt yang paling mulia, karena ia memiliki jiwa. Dengan jiwa yang dimiliknya, manusia dapat membuat pilihan. Apakah ia ingin sengsara di hari akhri dengan bertindak semena-mena di dunia? Ataukah sebaliknya, ingin memperoleh kebaikan akhirat dengan bertindak taat?

[baca sebelumnya: Mengingat Kematian Semasa Hidup (Bag 1)]

Sebagai manusia kita harus senantiasa memahami bahwa akan ada akibata atau konsekuensi yang kita dapatkan kelak. Hal ini pun kembali pada persepsi kita sendiri dalam memilih. Apakah lebih percaya kepada fakta dunia, ataukah spiritual? Jika kita melihat fakta di dunia ini, kita mungkin melihat bahwa mereka yang berbuat kebajikan akan—atau bahkan harus—menghadapi kehidupan yang begitu pahit. Sebaliknya, mereka yang berbuat kejahatan justru disuapi dunia dengan penuh kenikmatan.




Kita harus selalu meyakini bahwa hidup dan matinya seorang manusia adalah ujian. Sebagaimana firman Allah Swt pada ayat berikut, “Allah menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk [67]: 2) Dari sini semoga kita senantiasa memahami bahwa apa yang berada di tangan Allah sesungguhnya lebih pasti dan meyakinkan, dibandingkan apa yang ada dalam genggaman manusia. Tidaka ada yang kekal di dunia, tetapi mengapa kita masih belum mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian yang pasti akan menjemput?

Kedekatan seorang manusia dengan Penciptanya semestinya tidak membuat ia lupa bahwa suatu saat ia akan kembali ke Sang Pencipta. Karena itu sudah selayaknya seorang manusia mempersiapkan segala sesuatu yang menjadi bekal untuk dibawanya pulang. Allah Swt berfirman, “Manusia tidaklah mendapatkan sesuatu kecuali yang dia usahakan. Dan bahwa hasil usahanya itu akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan dibalas dengan balasan yang sempurna.” (QS. An Najm [53]: 39-41)

Kematian merupakan sebuah pertemuan yang indah dengan Sang Pencipta. Dengan mengingat kematian akan menjadikan kita orang yang turut dibangkitkan bersama para syuhada. Suatu hari Rasulullah Saw ditanya oleh Aisyah, “Ya Rasulullah adakah orang yang akan dibangkitkan bersama para syuhada?” Rasulullah kemudian menjawab, “Yaitu orang yang mengingat mati dua puluh kali dalam sehari semalam.” Orang yang paling sering mengingat kematian dan orang yang paling baik mempersiapkannya adalah orang yang paling cerdas. Mereka akan memperoleh kehormatan di dunia dan kemuliaan di akhirat.

Dalam mengingat kematian, kita dapat mengenangnya dengan kerinduan dan cinta yang tulus untuk berjumpa dengan Allah. Karena itu, sebelum kematian menjemput mari persiapkan diri kita dengan bekal yang akan kita bawa pulang kepada-Nya. Persiapan tidak dilakukan ketika kematian tiba, tetapi sejak saat ini. Ketika nyawa masih melekat pada badan kita, saat masih ada kekuatan dan kemampuan untuk hidup di bumi untuk melakukan keseimbangan hablum minannas dan hablum minAllah. Mari kita sama-sama berdoa agar sisa usia kita hanya kita gunakan untuk taat pada perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya sebagai bekal kita ke akhirat.

bersambung…

sumber: buku saku Mimbar Jum’at berjudul Mengingat Mati oleh Buya H.M. Alfis Chaniago