Menjelang Wafatnya Rasulullah SAW (Bag 1)




Fajar hari itu Rasulullah Saw merasakan sakit kepala yang tidak pernah dialami sebelumnya, namun beliau tetap pergi ke masjid. Beliau pun seperti biasa mengimami shalat dan setelah itu naik ke atas mimbar. Dalam posisinya tersebut beliau mendoakan para syuhada Perang Uhud, seolah beliau tengah melakukannya untuk yang terakhir kalinya. Rasulullah kemudian berkata, “Ada seorang hamba Allah yang diberi pilihan antara dunia ini atau pertemuan dengan-Nya, dan hamba tersebut memilih berjumpa dengan Tuhannya.”

Ketika beliau mengatakan kalimat tersebut, terlihat Abu Bakar menangis. Sahabat Nabi tersebut mengerti bahwa Rasulullah Saw tengah membicarakan dirinya sendiri. Abu Bakar memahami bahwa pilihan yang dimaksudkan adalah kematian. Rasulullah Saw pun tahu bahwa Abu Bakar memahaminya, sehingga beliau menyuruhnya untuk tidak menangis. “Hai manusia, orang yang paling terkasih dalam persahabatan denganku dan paling dermawan tangannya adalah Abu Bakar. Seandainya aku mengambil seorang teman yang tak bisa dipisahkan dari seluruh manusia, pastilah ia Abu Bakar. Tetapi persahabatan dan persaudaraan dalam iman menjadi milik kita, sampai Allah mempersatukan kita di haribaan-Nya.”




Pada kesempatan tersebut, Nabi pun berkata, melihat di sekeliling pintu masjid dari rumah-rumah yang mengitarinya. “Tutuplah pintu-pintu yang mengarah ke masjid. Buatlah dinding, kecuali pintu rumah milik Abu Bakar.” Sebelum keluar dari mimbar, beliau melanjutkan kalimatnya, “Aku pergi mendahului kalian, dan aku menjadi saksi kalian. Tempat pertemuan kalian denganku adalah di Telaga, yang sesungguhnya dapat kulihat dari tempat aku berdiri saat ini. Aku tidak mengkhawatirkan kalian akan menyembah tuhan selain dari Allah. Akan tetapi, yang kukhawatirkan kalian di dunia ini akan saling berlomba meraih kejayaan duniawi.”

Seusai dari masjid, beliau  mendatangi rumah Maimunah yang hari itu adalah gilirannya untuk memperoleh kunjungan. Rasulullah Saw saat itu merasakan sakit di kepalanya semakin menjadi. Setelah sekitar satu atau dua jam, beliau tiba-tiba teringat Aisyah dan berharap bahwa istrinya tersebut tahu dirinya sedang kesakitan, karena itu beliau pergi sejenak mengunjungi Aisyah. Di sana beliau menemukan istrinya tersebut juga tengah sakit kepala. “Oh, kepalaku!” Rintih Aisyah. Nabi lalu menimpali, “Bukan Aisyah, kepalaku yang sakit.” Meskipun demikian, beliau menatap wajah Aisyah dengan seksama, seolah mencari tanda sakit yang bisa mengakibatkan kematian. Namun beliau tidak menemukannya.

Rasulullah Saw kemudian berkata, “Aku berharap jika itu terjadi sementara aku masih hidup, aku akkan memohonkan ampun bagimu, memohon keberkahan bagimu, mengafanimu, menyalatimu, dan menguburkanmu.” Dari kalimat yang diucapkan beliau tersebut, Aisyah mengetahui dari nada suaranya bahwa Nabi tengah sakit. Namun Aisyah tetap berusaha untuk riang, sehingga beliau tersenyum sejenak, sebelum kemudian kembali ke rumah Maimunah.

Di sana beliau melakukan seperti biasanya seperti ketika sehat. Rasulullah Saw pun telah menjadi imam shalat di masjid. Namun sakitnya kian parah, hingga beliau hanya mampu melakukan shalat sambil duduk. Saat kembali ke rumah dari masjid, beliau bertanya kepada Maimunah tentang siapa yang akan dikunjunginya besok dan besoknya lagi. Maimunah menyadari bahwa Rasulullah tidak sabar untuk segera bersama Aisyah. Ia lalu mengatakan kepada istri-istri lain perihal tersebut. Mereka pun memberikan jatah waktu mereka untuk saudara mereka Aisyah. Beliau menerima keputusan mereka. Karena kondisinya yang semakin lemah, dengan dibopong oleh Abbas dan Ali beliau pergi menuju rumah Aisyah.

bersambung…

sumber: Buku Muhammad karya Martin Lings

Leave a Reply