Ketika Rasulullah Saw mengalami sakit menjelang beliau wafat, banyak kritikan yang ditujukan kepada beliau karena keputusannya memilih sosok pemuda Usamah untuk memimpin pasukan penaklukan Suriah. Beliau pun merasa perlu untuk menanggapinya. Setelah tubuhnya dibersihkan, beliau pun berangkat ke masjid dengan dipapah oleh dua orang laki-laki. Sambil duduk di mimbar, beliau menyampaikan, “Hai manusia, bergegaslah pasukan Usamah, karena bila kalian mempertanyakan kepemimpinannya, sama saja kalian mempertanyakan kepemimpinan ayahnya sebelumnya. Ia pantas memimpin, sebagaimana ayahnya pantas untuk itu.

[Baca Sebelumnya: Menjelang Wafatnya Rasulullah SAW (Bag 1)]




Setelah pidatonya tersebut, Rasulullah Saw dipapah kembali pulang ke rumah Aisyah. Sementara itu, persiapan pun dipercepat dan Usamah bersama pasukannya berangkat ke tempat perkemahannya di Jurf—yaitu sekitar tiga mil sebelah utara Madinah.

Pada waktu shalat berikutnya, Nabi merasa tidak mampu mengimami shalat. Beliau kemudian meminta istrinya untuk menyampaikan kepada Abu Bakar agar mau menggantikannya mengimami shalat. Saat itu Aisyah sempat khawatir apa yang diminta Rasulullah akan membuat Abu Bakar sedih, sehingga ia mengusulkan agar Umar saja yang menggantikan posisinya sebagai imam shalat. Namun, Nabi mengabaikan dan mengucapkan sebuah kalimat yang sama sebanyak tiga kali, hingga kemudian Abu Bakar menggantikannya.

Dalam kondisi sakitnya, Rasulullah Saw banyak berbaring di pangkuang Aisyah. Pernah pada suatu waktu Fathimah—putri Rasulullah—datang,  sehingga Aisyah mengundurkan diri untuk mempersilakan keduanya bersama-sama. Pada kunjungan kali ini, Aisyah melihat Nabi membisikkan sesuatu kepada Fathimah,  hingga putrinya tersebut menangis. Di sela-sela tangisnya, Nabi membisikkan hal lainnya dan yang kali ini membuat Fathimah tersenyum.

Saat ditanya tentang hal tersebut, Fathimah tidak memberitahukannya kepada Aisyah. Namun di kemudian hari, Fathimah menuturkannya kepada Aisyah. “Nabi mengatakan kepadaku, beliau akan wafat dalam sakitnya ini, sehingga aku menangis. Lalu beliau mengatakan, akulah orang pertama dari keluarganya yang akan menyusul beliau, karena itu aku tertawa.”

Rasulullah merasakan sakitnya semakin memburuk. Ummu Ayman—ibunda Usamah—selalu menginformasikan kepada putranya tentang kondisi Rasulullah. Hal ini membuat Usamah memutuskan untuk tetap di baraknya di Jurf dan tidak melanjutkan perjalanan. Pernah suatu pagi terdapat kabar bahwa Usamah datang ke Madinah, lalu sambil menangis mendatangi Rasulullah yang hari itu tampak sangat lemah. Pemuda itu pun merangkul beliau erat-erat dan menciuminya. Beliau kemudian mengangkat tangannya, bahkan telapak tangannya diangkat tinggi. Nabi lalu berdoa memohon keberkahan dari langit dan memberikan sebuah isyarat, seolah-olah mempersilakan Usamah untuk pergi. Usamah pun kembali ke barakanya dengan rasa sedih yang begitu mendalam.

Hari berikutnya adalah Senin tanggal 12 Rabiul Awal, tahun ke-8 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 8 Juni 632 Masehi. Pagi itu demam Rasulullah saw menurun, sehingga beliau memutuskan untuk pergi ke masjid saat mendengar adzan berkumandang—sekalipun kondisinya masih begitu lemah. Ketika beliau masuk masjid, shalat telah dimulai. Para jamaah tampak terkejut sekaligus gembira melihat Nabi. Abu Bakar ra –yang ketika itu bersiap menjadi imam shalat– menyadari kehadiran Nabi, mundur ke belakang. Tetapi beliau mendorong pundak Abu Bakar ra agar meneruskannya. Beliau pun akhirnya shalat di sebelah kanan sahabatnya tersebut dengan posisi duduk.

bersambung…

sumber: buku Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, karya Martin Lings